Minggu, 04 Mei 2014

Mendidik adalah tugas setiap insan terdidik

Malam itu sepulang kuliah rasanya ingin segera berlari menuju kasur yang empuk. Bagaikan ikan yang bertemu dengan air setelah beberapa saat terkapar di daratan. Bantal dan guling seolah memanggil dan berteriak, mata dan badan pun serasa terkoneksi untuk segera menjawab panggilan dan teriakan itu. Tapi  mendadak ponsel dalam tas biru dikanan tangan ku berdering, nada pesan masuk. Sebuah pesan singkat untuk mengisi kelas tambahan besok pagi. Fyuh, dan pada akhirnya bantal guling kembali terdiam beberapa saat dan masih rapi seperti keadaan semula. Mungkin ia kecewa. Mungkin saja.

Berbeda dengan mata dan badan yang tadinya dengan lantang  menjawab teriakan itu, tiba-tiba ia menyeru otak untuk berdiskusi kecil. Sungguh tak disangka, mata, badan dan otak begitu sigap mengambil langkah. Tanpa aba-aba aku segera membalas pesan singkat itu dan meng-iya-kan untuk mengisi kelas esok pagi pukul 07.00 WIB.

Malam pukul  22.00 WIB. Suasana kost terlihat hening, beberapa anak kost masih ada yang asik dengan tayangan akhir pekan salah satu stasiun televisi dan beberapa yang lain sibuk dengan gedgetnya. Kebetulan esok hari sabtu, dan jadwal kuliah ku dimulai pada pukul 12.30 WIB, setidaknya jawaban meng-iya-kan tanpa aba-aba tadi ada dasar yang jelas, karena tak bersamaan dengan jadwal kuliah. Malam itu akhirnya tak ada waktu istirahat. Aku mencoba mencari beberapa folder kala kuliah dulu untuk merivew dan belajar (lagi). Bersyukur pembahasan untuk besok tak begitu rumit. Mata, badan dan otak terasa begitu kompak untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Benar-benat tak ada yang menyangka, rasa kantuk dan lelah sirna begitu saja. Hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul 02.00. Persiapan materi, power point dan beberapa soal ready. Akhirnya bantal dan guling tersenyum, dan menyambut dengan hangat.

Suara adzan terdengar dari masjid belakang kompleks. Aku mencoba membuka mata perlahan dan mengumpulkan nyawa yang terasa belum lengkap. Kucoba terbangun dan melipat selimut yang masih setia memberikan kehangatannya. Segera kuambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh. Pagi yang begitu cerah, kicau burung gereja yang selalu hinggap di atap dekat balkon. Sungguh rasanya ingin kembali menarik selimut dan menyambung mimpi semalam. Tapi lagi-lagi otak memberikan mandat dengan cepat untuk tak boleh bermalas-malasan. Seperti layaknya sebuah pepatah, ayam yang bangun paling pagi akan paling banyak dapet cacing. Persiapan menuju kampus dan siap melaksanakan kewajiban dengan total. Ya, sebuah totalitas.

Pagi itu beberapa mahasiswa sudah ada di dalam kelas. Ini hari pertama ku bertemu mereka, kucoba menyapa dan mengucap salam. Ternyata salah satu diantara mereka ada yang kukenal dan cukup akrab, karena ia tergolong mahasiswi yang rajin dan tak pernah absen untuk duduk di bangku paling depan. Semangat belajarnya begitu luar biasa. Bahkan terkadang tak segan ia memberikan masukan atau tanggapan setelah usai kelas. Saat itu kelas masih belum penuh, karena memang belum menunjukan pukul 07.00 WIB. Kami sepakat untuk menunggu mahasiswa lain dan aku mempersiapkan laptop serta notes di papan tulis untuk memperlanjar KBM.

Aku sadar betul, bahwa pendidikan adalah kunci utama dari segala pintu. Tak hanya menjadi seorang pendidik yang memegang kunci pendidikan tinggi. Businessman, dokter, pengacara, pramugara, polisi, apoteker dan segala macam pekerjaan selalu ada peran pendidikan disana. Dan satu hal yang pasti, mendidik adalah tugas dari setiap insan terdidik. Tak hanya guru dan dosen yang mempunyai kewajiban untuk mendidik anak bangsa, tetapi kewajiban kita semua untuk memajukan pendidikan Indonesia. Tak berat, jika kita menjalankan dengan tulus ikhlas dan semata-mata hanya ingin bermanfaat untuk orang lain.

Beberapa mahasiswa mulai berdatangan dan kuliah pun dimulai. Diskusi kelas alhamdulillah berjalan dengan lancar hingga beberapa mahasiswa membetuk kelompok untuk mengerjakan kasus. Tak ada yang lain dalam benak dan pikiranku, hanya semoga hari ini bermanfaat.

Kelas pun berakhir. Dan seperti biasanya mahasiswi rajin itu selalu pulang paling akhir dengan beberapa teman se-genk nya. Ia menghampiriku di depan dan menunjukan ponselnya. Sontak aku terkaget dan bertanya apakah ada yang bisa kubantu. Mahasiswi tersebut menyodorkan ponsel tipis berwarna putih padaku, dan ia hanya berucap “kece nggak mbak?”. Aku menatapnya dan tersenyum. Disana terlihat seorang wanita berkerudung ungu sedang menulis di papan tulis, dan ternyata wanita itu aku. Tak ada komentar, aku hanya tersenyum malu dan berterimakasih padanya. “kok sempet-sempetnya sih dek?mbak jadi malu” pertanyaan ini mengalir begitu saja, dan ia menjawab “gapapa mbak, aku iseng aja tadi soalnya aku pingin ngajar juga kayak mbak”. Percakapan demi percakapan pun bersambung hingga kami keluar kelas dan berakhir pada percakapan luar biasa. Kami bertekat untuk membuka konsultasi belajar. Dengan target utama kami, bermanfaat untuk orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat untuk sesamanya.


Semoga bermanfaat :') 

Selasa, 22 April 2014

Periode kesayangan




TIM PROMO Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Disini keluarga baru itu terbentuk. Karakter yang berbeda, background keluarga yang beragam serta sekian banyak perbedaan diantara kita tak terlihat sama sekali. Kita semua satu, sering ku menyebutnya dengan keluarga lantai tiga. Awal periode yang begitu menyenangkan. Kehangatan sebuah keluarga yang tak dapat tergantikan. Aku merindukan kalian, keluarga lantai tiga ku. 

Benar adanya, memory kita mudah sekali berputar ketika melihat sebuah foto masa lalu. Ah tidak, aku tak ingin menyebut periode kesayanganku dengan kata masa lalu. Masa-masa alay itu ternyata mampu memberikan porsi tersendiri dalam ingatanku. Betapa tidak, hampir sekuruh hari terhabiskan bersama kalian di kantor mungil itu. Dealing, roadshow, LPJ dan sekian banyak rutinitas yang menyatukan kita. Pulang kuliah ku tak lagi kos, pulang kuliah ku bersama kalian di lantai tiga itu. Bahkan terkadang skripsi pun, tak ku kejar di perpustakaan layaknya mahasiswa tingkat akhir lainnya. Masih sama dengan yang sebelumnya. Ya, di lantai tiga kantor mungil kita itu. 

Suatu saat nanti, janjikan padaku untuk kita berkumpul kembali dan membawa segudang cerita kehidupan. Sukses buat kita semua, keluarga lantai tiga kesayanganku. Sayang kalian!


Minggu, 13 April 2014

Dia, inspirasi

Tiba-tiba ia datang dan pergi, tanpa arah tanpa haluan. Begitulah dirinya, seolah tanpa beban dan tak bersalah. Sebuah nama yang kusebut "inspirasi" ia tak pernah henti berdatangan di waktu yang tak pernah bisa diprediksi.
Singkat kata pagi ini ingin kembali produktif menulis, tetapi ia yang kutunggu belum hadir. Inspirasi, bisa datangkah pagi ini? Betapa aku merindukan moment dimana engkau berlarian seolah mengejar jari jemari dan ia berlari membentuk kata kaliamat dan paragraf hingga akhirnya menjadi sebuah tulisan. Aku merindukan moment itu. Sangat.