Sabtu, 13 September 2014

Be the winner

Selamat malam,
Aku percaya betul bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah atas kehendak-Nya. Aku yakin dengan sangat, bahwa apa pun yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik untuk kita. Manusia berproses, manusia belajar dari apa yang ia alami, dan manusia berfikir serta memfilter segala yang telah terjadi pada dirinya untuk menjadi lebih baik dan berusaha menjadi yang terbaik. 
Tak ada yang salah dengan persepsi orang, karena memang begitulah manusia. Penuh dengan asumsi dan opini. Hanya saja kita berhak untuk meluruskan asumsi itu, bahkan kita wajib meluruskannya. Bukan dengan amarah, bukan dengan mencaci atau bahkan memusuhi. Tetapi dengan sebuah pembuktian. Tak cukup dengan bantahan sebuah kata ataupun kalimat, tetapi pembuktian yang nyata dengan sebuah perubahan menuju kebaikan. Orang bebas ber-opini, tetapi kita berhak memperbaiki. Bahwa kita mempunyai cara tersendiri untuk menuju goal kehidupan kita. Mungkin orang lain tak pernah tau proses apa yang sedang kita jalani saat ini. Dan memang begitu sebaiknya.
Diluar sana, tak sedikit orang yang berada pada titik kesuksesan yang begitu luar biasa menakjubkan dengan sebuah proses yang tak diketahui banyak orang. Dan tak satu pun dari orang-orang sukses tersebut yang hanya berdiam diri dan menelan opini liar itu. Mereka bergerak, mereka berproses dan mereka melawan arus serta mencoba keluar dari zona nyaman.
Tak ada banyak waktu sobat, inilah saatnya mencetak gol kehidupan. Manusia berusaha dan percayalah Tuhan tak pernah lengah menilai jerih payah kita. Hingga pada saat yang tepat nanti, Dia berikan sebongkah kematangan kehidupan dari perjalan dan proses kehidupan yang telah kita perjuangkan. Be the winner, not a loser. Good Luck!

Selasa, 26 Agustus 2014

Kutitipkan rinduku pada hembusan angin malam

Angin malam boleh saja merasuk dalam tulang dan membekukan sel-sel di dalam sana, tetapi lantunan indah atas segala puji untuk Nya selalu memberikan sentuhan hangat yang tak tertandingkan. Aku bersyukur terlahirkan menjadi seorang muslim. Aku bersyukur berada dalam keluarga yang mengerti bagaimana berperan menjadi manusia yang selalu berucap syukur dalam setiap hembusan nafas ini. Dan aku sangat teramat bersyukur terlahirkan dari kedua orang tua yang luar biasa memberikan kehangatan dan keharmonisan yang tak ternilai harganya.
Malam yang begitu dingin ini membawaku pada sebuah lamunan beberapa tahun silam. Dan memory ku berpadu dengan dinginnya malam. Aku rindu dinginnya malam dirumah, aku rindu berebut selimut dengan si bungsu. Dan aku merindukan pelukan hangat dan dekapan penuh sayang beliau yang melahirkanku dengan taruhan nyawa dan segala cintanya. Malam ini, kutitipkan doa dan lantunan ayat suci untuk beliau yang teramat sangat kusayangi sepenuh hati. Jaga beliau Tuhan, aku tak dapat memeluk beliau setiap saat. Dan aku tau seberapapun usaha ku untuk memberikan rasa sayangku pada beliau tak akan pernah menggantikan kasih sayangnya untuk ku dan adik-adik ku. Tetapi dari hatiku terdalam, aku hanya ingin membahagiakan beliau. Tak ada yang dapat kulakukan selain berdoa dan mengharapkan ridho-Mu untuk aku berada pada fase seorang anak yang membuat kedua orangtua ku menangis karena bangga atas segala usahaku. Perkenankan aku mempersembahkan yang terbaik, Tuhan.

Selasa, 01 Juli 2014

Marhaban ya Ramadhan


Ini malam ke-tiga bulan Ramadhan kita. Aku merasakan malam-malam yang damai dan penuh ketenangan hati. Tapi aku juga merasakan debar yang berbeda. Seolah Ramadhan berlari begitu kencang, sedangkan aku masih berjalan tertatih. Ingin sekali kusempurnakan tiap malamku dengan qiyamul lail dan mengaji, ingin sekali kupenuhi hariku dengan perkataan dan aktifitas yang baik. Tapi terkadang masih ada rasa malas dan kantuk menyelimuti saat sepertiga malam itu tiba. Entahlah, mungkin karena lelah melaksanakan rutinitas kita.  

Ah, manusia. Selalu mempunyai celah dalam pembelaan dirinya. 

Malam ini langit cerah, seperti hari-hari sebelumnya. Syukurku tiada henti, Tuhan selalu memberikan cuaca yang berbeda saat Ramadhan tiba. Tidak berlebihan bukan jika aku memberi sebutan "berkah Ramadhan". Perasaan yang berbeda juga sangat terasa ketika bulan baik dan bulan penuh ampunan ini tiba. Seakan jantung berdegup bukan hanya sekedar roda yang berputar karena menjalankan tugas begitu saja. Tetapi berdegup dengan alunan dan irama yang senada dengan pusat rasa gembira di dalam sana. Entah kenapa, selalu muncul rasa gembira yang berbeda. Sangat gembira. 

Samar-samar alunan ayat suci Al-Quran dari masjid terdengar, maha suci Allah dengan segala kesempurnaan-Nya. Jika kita bisa melihat ekspresi langit malam ini, raut wajah bintang dan segala gugusan langit, mungkin mereka terlihat tersenyum bahagia. Dan rasanya, memang tak ada yang tak merindukan Ramadhan. 

Sungguh syukurku tiada henti. Tuhan masih mempertemukan ku dengan Ramadhan tahun ini. Hingga terkadang aku malu, jika suatu saat nanti hari pertanggungjawaban itu tiba. Apa yang bisa kuberikan pada-Nya, jika hingga detik ini saja aku masih tertatih menyusuri bulan penuh berkah ini. Ampuni aku Tuhan.