Rabu, 03 Desember 2014

Tugas I

TUGAS I TEKNIK DAN METODE INVESTIGASI
Dosen Mata Kuliah : Bapak Yudi Prayudi, S.S.I.,M.Kom.
Oleh
Putri Demi Aridi, SE.,Ak.
NIM 13919012

Mendalami tentang definisi Forensik dan kaitannya dengan Akuntansi Forensik.
Forensik berasal dari kata Forensis (dalam bahasa Yunani) yang mempunyai arti debat atau perdebatan. Forensik merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan keadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains. Sedangkan ilmu forensik atau biasa disebut dengan forensik adalah sebuah penerapan dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting untuk sebuah sistem hukum yang berkaitan dengan tindak pidana maupun diluar sistem hukum, meliputi sesuatu atau metode-metode bersifat ilmiah dan juga aturan-aturan yang dibentuk dari fakta-fakta berbagai kejadian untuk melakukan pengenalan terhadap bukti-bukti fisik.
Secara sederhana, pengertian Ilmu Forensik adalah penerapan ilmu pengetahuan dengan tujuan penetapan hukum dan pelaksanaan hukum dalam sistem peradilan untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti fisik yang ditemukan di tempat kejadian perkara dan kemudian dihadirkan dalam sidang pengadilan dengan tujuan untuk membuktikan ada atau tidaknya suatu tindak pidana.
Sedangkan Akuntansi Forensik menurut D. Larry Crumbley, editor-in-chief dari Jurnal of Forensic Accounting (JFA) mengatakan bahwa Akuntansi Forensik adalah ilmu akuntansi yang dapat bertahan dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan atau dalam proses peninjauan judicial atau administrative. Menurut Hopwood, Leiner & Young (2008) mendefinisikan Akuntansi Forensik adalah aplikasi keterampilan investigasi dan analitik yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah keuangan melalui cara yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pengadilan atau hukum.
Sehingga, keterkaitan antara Ilmu Forensik dengan Akuntansi Forensik adalah saling berhubungan dan saling melengkapi, melihat dalam akuntansi forensik merupakan praktik khusus dalam bidang akuntansi itu sendiri yang mempunyai tujuan khusus untuk mengungkap permasalahan dalam bidang akuntansi yang dijalankan di dalam konteks rules of evidence. Oleh karena itu, peran Ilmu Forensik dalam Akuntansi Forensik itu sendiri tidak dapat terlepaskan, karena Ilmu Forensik yang barkaitan dengan hukum adalah sebagai acuan hukum untuk memperkuat analisis permasalahan Akuntansi Forensik dan sebagai acuan dalam penyelesaian hukum.

Beri penjelasan tentang prinsip Locard Exchange, Daubert  Criteria dan Fryee Standar.
a.    Prinsip Locard
Prinsip Locard Exchange dikemukakan oleh Edmund Locard, beliau adalah seorang profesor dan ahli kriminologi Perancis pada tahun 1910.  Menurut Rosidin, bahwa prinsip Locard menyatakan pelaku kejahatan akan membawa sesuatu ke TKP dan meninggalkan dengan sesuatu dari itu, dan bahwa keduanya dapat digunakan sebagai bukti forensik. Pada dasarnya Prinsip Locard Exchange adalah apabila ada kontak antara dua benda yang berbeda dan akibat dari kontak benda tersebut adalah adanya jejak. Jejak tersebut adalah merupakan bukti fisik baik yang terlihat secara langsung maupun yang tidak terlihat secara langsung. Salah satu contoh real dari kontak dua benda yang berbeda adlah ketika dalam suatu rumah yang kosong dan sistem pengamanan rumah tersebut kurang baik sehingga ada orang lain atau bahkan pencuri masuk ke dalam rumah hendak mengambil barang. Disini rumah dan maling adalah merupakan kontak dua benda yang berbeda, dan sudah pasti meninggalkan jejak. Jejak yang ditinggalakn oleh pencuri tersebut bisa berupa sidik jari,  jejak kaki maupun bukti fisik lainnya. Selain itu, kontak dua benda berbeda juga dapat terjadi pada dunia digital, seperti ketika kita membuka website maupun memasukan USB pada computer. Setiap computer mempunyai sistem untuk mencatat segala kegiatan yang terjadi di dalamnya. Dan hal ini tentu juga merupakan bukti fisik yang dapat digunakan sebagai bukti forensik.
b.   Daubert Criteria
Standar Daubert adalah pengembangan dari standar Fryee. Standar Duabert merupakan  seperangkat kriteria yang mengatur diterima atau tidaknya kesaksian dari ahli saksi dan bukti ilmiah dalam proses hukum federal di Amerika Serikat. Penggunaan Standar Daubert berhubungan dengan bukti fisik, yaitu bagaimana konsepsi hukum dalam menerima barang bukti tersebut. Sebuah metodologi ilmiah dapat diterima dalam persidangan bila sudah terbukti secara umum dan diakui oleh asosiasi dan juga memiliki banyak publikasi serta referensi yang dapat dipertanggung jawabkan. Menurut Gilang, bahwa dalam konteks jenis perkara yang disidangkan penerapan Standar Daubert sangat efektif untuk perkara pencemaran lingkungan. Menurut Standar Daubert proses identifikasi bukti yang relevan dan reliable meliputi empat kriteria mendasar, yaitu : 1. Testing. Yaitu menguji prosedur yang telah ada dan melihat hasil dari uji tersebut, 2. Error rate. Yaitu melihat seberapa besar tingkat eror dari prosedur yang diterapkan, 3. Publication. Yaitu prosedur yang diterapkan harus sudah di publikasikan, 4. Acceptance. Yaitu prosedur yang diterapkan harus sudah diterima secara umum oleh komunitas ilmiah. Sedangkan contoh dalam Standar Daubert ini adalah DNA.
c.    Fryee Standar
Berbeda dengan Standar Daubert, dalam Standar Fryee berhubungan dengan bukti digital.  Dalam Fryee Standar, segala kesaksian para ahli harus didasarkan pada metode ilmiah yang cukup mapan dan diterima. Fryee standar harus menyediakan pakar atau ahli untuk memberikan keterangan kepada hakim. Misalkan pada setiap versi dan merk setiap jenis handphone pasti memiliki kriteria masing-masing, yaitu menggunakan Fryee Standar ini. Prinsipnya adalah ada pakar yang berpendapat tertentu tentang metodologi tersebut. Walaupun mungkin pendapat tersebut belum terbukti akurat, akan tetapi hal ini tetap dapat digunakan karena yang memberikan pendapat adalah seorang ahli dan pakar dalam bidangnya. Sehingga hal ini dapat diterima di persidangan. 

Minggu, 30 November 2014

Sehari bersama Beta

Memasuki malam pergantian bulan. Ya, dalam hitungan menit November akan berganti menuju Desember. Dan tengah malam ini, aku memilih menulis. Menuangkan apa yang ada di hati dan menggoreskan apa yang ada di pikiran. Ah, waktu memang begitu cepat bergulir, mengalir dengan derasnya hingga terkadang tak terasa pergantiannya.

Bulan lalu, berita gembira datang dari Nia. Pertemuannya dengan mas Opik membawanya memasuki kehidupan baru, sebuah pernikahan dengan keindahan dan lika-likunya. Dan Nia memutuskan untuk mengikuti mas Opik untuk membuka lembaran baru di ibu kota. 

Kami yang tadinya berlima, bersahabat dan selalu bersama kini hanya berempat di kota pelajar ini, Yogyakarta. 

Perguliran bulan Oktober menuju November ternyata membawa berita gembira lagi untuk kami. November ini, Beta mendapatkan jalan karirnya. Pengumuman kelulusan BPJS membuat kami merasakan uforia yang luar biasa. Bahagia kami tak terkira, betapa merasakan Tuhan begitu dekat dengan urat nadi kita. Tuhan menjawab doa sahabat kami, jalan rizki terbuka. Alhamdulillah syukur kami tak terhenti.

Memang benar, kehidupan ini ada "masa"nya masing-masing. Setelah pengumuman ini mungkin bulan depan Beta sudah mulai disibukan dengan karirnya, bersiap untuk ditugaskan diluar kota dan lagi-lagi kami merasa sedih karena setelah Nia, mungkin sekarang Beta yang harus mengikuti jejak Nia untuk berpindah dari Jogja. Dan dari berlima kemudian berempat dan sekarang kami bertiga. 

Ayolah, di era teknologi secanggih ini masih merasakan sedih karena terpisah oleh jarak? Rasanya terlihat begitu udik jika harus bersedih karena jarak. Bukankah masih banyak cara untuk bersua sekalipun tanpa bertatap muka?

Tidak, akan terasa berbeda jika kami berlima kumpul bersama. Berbagi pengalaman dan bertukar ide bersama, saling memberikan semangat dan masih banyak hal yang dapat kita lakukan. Dan itu semua akan terasa hambar jika tak saling menatap. Tetapi kami pun mencoba realistis, bahwa kami juga harus mengejar cita-cita dan mewujudkannya. Mungkin saat ini Tuhan memberikan jarak dan mungkin juga Tuhan ingin melihat ketulusan doa kita jika tak saling berdekatan. Dan saat ini, biarkan doa tulus yang mewakili pelukan kami dari jauh.

Sukses untukmu sahabat, Beta.

Kamis, 27 November 2014

Life is Unpredictable

Manusia memang hanya menjalankan apa yang telah menjadi skenario Nya. Berjalan menyusuri hari demi hari, waktu demi waktu dan menemui hal-hal baru. Termasuk berjumpa dan menjalin silaturahmi dengan orang-orang yang tak terduga sebelumnya. Menjumpai karakter baru, pemikiran baru dan segala hal baru yang menajubkan.

Bercerita masa lalu dan masa kecil dulu, aku terlahir dalam lingkungan keluarga mayoritas perempuan. Mamaku dan kedua adik perempuanku. Setiap hari penuh dengan kasih sayang dan kelembutan, tak pernah ada pertikaian bahkan bentakan. Papa pun tak pernah mendidik dengan keras, dan selalu menunjukan raut wajah damai penuh kesabaran. Mungkin saja karena kami bertiga perempuan, sehingga Papa berusaha memberikan pendidikan yang jauh dari didikan “militer” yang biasa diterapkan untuk anak laki-laki. Dan mungkin saja Papa tak selembut ini jika diantara kami ada saudara laki-laki. Mungkin.

Hari demi hari yang kami lalui di rumah ternyata membentuk karakter kami bertiga. Pun tak dipungkiri, diantara kami bertiga memiliki sifat masing-masing. Menurut Mama, aku cenderung pada pribadi yang ceria supel tetapi juga memiliki sifat keras. Berbeda dengan adik ke-dua ku, ia cenderung diam dalam segala hal, introvert tetapi penurut. Dan si bungsu, sejak kecil ia sudah terlihat hiperaktif, tak bisa diam dan tak bisa berhenti bernyanyi. Tetapi pendidikan dalam rumah memang berperan besar pada tumbuh kembang kami bertiga, sehingga kemasan kami tak jauh beda antara satu dengan yang lain. Kami bertiga memiliki sifat dominan, penurut, tak bisa dibentak, tak suka kekerasan dan cenderung berjalan pada rule yang kami anggap baik, tak berani keluar dari hal kebaikan itu. Termasuk jika sudah jam 9 malam maka segala aktifitas kami berhenti, meng-off kan percakapan dalam handphone, kembali kerumah secepatnya sebelum jarum jam menunjukkan pukul 21.00. Dan lain sebagainya, begitu Papa Mama mendidik kami.

Hari berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin tiap pagi selalu mendengar teriakan Mama untuk segera bergegas mandi, sarapan pagi dan pergi ke Sekolah. Rasanya baru saja itu semua terjadi. Dan tak terasa hampir enam tahun sudah teriakan Mama tiap pagi hanya terasa dalam hati. Menjadi sebuah alarm jiwa untuk melanjutkan kedisiplinan kala pagi datang. Dan dengan segala karakter yang tertanam dari kecil. Terbawa hingga sekarang sekalipun tak seatap merasakan pendidikan karakter rumah seperti enam tahun silam.

Singkat cerita, karakter ini terbentuk dan menjadi aku yang saat ini. Hingga pada suatu ketika Tuhan mempunyai rencana yang tak  terduga. Tuhan mempertemukanku pada seseorang yang memiliki kepribadian jauh dari keseharianku. Lingkungan keluarga dengan mayoritas laki-laki, pendidikan rumah yang keras dan extra disiplin, dan mungkin hampir mendekati pendidikan militer. Aku memanggilnya “abang, mas, aa” begitulah. Entah apa rencana Tuhan, pertemuanku dengan beliau ternyata membawa banyak perubahan pada pemikiran dan juga karakterku. Ia mengajakku menyusuri kehidupan dalam batas yang berbeda, bahwa hidup tak hanya sekedar baik dan buruk. Hidup perlu dimaknai lebih dari itu. Karena di dalam kebaikan bisa jadi menyimpan keburukan dan di dalam keburukan mungkin menyimpan kebaikan.

Perkataannya tak pernah terdengar lembut. Garis muka tegas dan kata-kata beliau yang keras membuatku tak memahami apa yang didapat dengan kepribadian seperti ini. Berhari-hari aku dibingungkan dengan sifat-sifat baru dan pemikiran baru. 

Dan aku, berusaha menyusuri lapis demi lapis apa yang Tuhan berikan melalui beliau yang kukenal tak terprediksi ini. Tak jarang kami berdiskusi tentang kehidupan dan esensi dari hidup. Cukup berat obrolan bersamanya, tetapi aku menikmati. Aku menemukan ilmu baru yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Banyak pelajaran yang beliau berikan.

Ternyata selama ini aku salah jika berfikir keras itu tidak baik. Ternyata selama ini aku terjebak pada pemikiran ku yang dangkal untuk memaknai kehidupan. Aku memandang bahwa segala yang terlihat tak baik itu seratus persen tidak baik, dan yang terlihat baik itu jaminan baik dalam segala hal. Dan ternyata ini salah. Perlahan beliau menyadarkan ini padaku. Dan aku, perlahan mulai membuka pikiranku.

Entah apa yang ada dalam benak beliau, sehingga begitu peduli akan diriku yang bukan siapa-siapa nya bahkan terbilang baru saja kami saling mengenal. Tetapi satu hal yang menjadi keyakinanku, segala yang terjadi di muka bumi ini tak ada satu pun yang berjalan tanpa kehendak Nya. Termasuk pertemuanku dengan beliau yang tak terduga, sangat tak terduga.

Jika berbicara dengan menggunakan akal, akal pun tak menemui titik temu apa rencana Tuhan dibalik semua ini. Jika mencerna menggunakan hati, rasanya diperlukan kemurnian dan ketulusan yang hakiki hingga menemui jawabannya. Dan jelas, aku masih berproses dan masih jauh dari kata murni dan tulus.

Perbedaan karakter yang sangat jauh ini ternya membawa pengaruh untuk ku. Aku mulai mengerti apa itu keras dan apa itu ketulusan dibalik kerasnya sifat seseorang. Aku menemui banyak hal baru setelah bertemu dengan beliau. Hal yang tak kujumpai diantara teman-teman sebayaku, guru-guru sekolah ku dan bahkan lingkungan terdekatku. Hal baru yang membentuk pola pikir baru untukku, untuk tidak menilai segala sesuatu hanya dari apa yang nampak oleh kasat mata, tetapi melihat apa yang di depan mata menggunakan ketulusan hati. Hati terdalam yang tak pernah menipu. Hati yang selalu berkata benar, tak pernah berkalkulasi dan tak pernah menimbang secara materi.

Betapa bersyukurnya aku mengenal beliau. Dan betapa bersyukurnya aku, Tuhan mengijinkanku bertemu dengan seseorang yang membawa perubahan untuk ku.

Aku, yang masih tak mengerti apa rencana Tuhan untuk ku.