Jumat, 08 Mei 2015

Karena DIA selalu ada

Malam ini, begitu syahdu bukan?

Sekalipun tak terdengar rintik hujan, tapi terasa tenang daman nyaman. Bukan karena akhir pekan, sekali lagi bukan. Karena aku merasa banyak pelajaran yang kupetik dari skenario Nya. 

Tentang hati?

Bukan, lagi-lagi bukan. Perjalan  hidup yang mengantarkan satu hikmah ke hikmah lainnya tak membuat gusar dengan peraduan hati. Dia tak pernah berdusta. Yang saat ini kupercaya, adalah, bahwa memantaskan diri tak mengenal pamrih. Ikhlas, hanya karena kecintaan pada Nya.

Bukan begitu?

Ya, tepat. Terkadang, kita terlalu cepat berkata tanpa berfikir lebih dalam bahwa segala perkara adalah bermula dari kata. Tuhan menguji kita karena yang tak bertulang itu. Berhati-hati lah.
Tetapi, setiap yang terjadi selalu berakhir dengan kata mengerti. Kini aku "mengerti" bahwa yang terbaik tak selalu datang dari apa yang kita inginkan. Kini aku "mengerti" bahwa belajar tak hanya dengan rumus akuntansi. Dan kini aku "mengerti" bahwa selalu tersimpan keindahan jika kita melihat dari sisi indah kita.

Masih belum mengerti?

Aku pun. 

Karena kita berproses pada jalur hikmah yang berbeda. Pada titik pendewasaan dan kematangan yang tak seragam. Hanya satu hal yang membuat kita sama, kita sama-sama dipersatukan pada hati yang tertuju pada Nya. Karena Dia, selalu ada dimanapun kita berada. 


Rabu, 01 April 2015

You must move up, sister!

Teruntuk adek seatap yang tak serahim. 

Aku menyayangimu layaknya aku memperlakukan kedua adik kandungku. Kalian semua menjadi tanggung jawabku selama setiap malam datang kita masih terlelap dalam atap yang sama. Hai adek seberang kamar, kamu tak sendirian. Jika sampai detik ini putus cinta masih membuatmu tak semangat kuliah, masih teringat segala kenangan bersamanya, masih memupuk rasa rindu mendalam. Cukup. Hentikan segala perasaan menyakitkan itu. Kamu berhak bahagia dek, melebihi bahagiamu ketika bersamanya. Jika perjalanan dalam hitungan bulan itu masih membuatmu terperangkap dalam lamunan, move up! Bergeraklah menuju kebahagiaan lain. Yang aku yakini, kamu tak serapuh itu. Orangtua kita tak akan rela melihat buah hatinya termenung di kota pelajar ini. Tugas kita belajar kan dek, bukan menyesali apa yang telah terjadi dibelakang. Kamu tahu, Allah begitu menyayangimu. Allah Maha Tahu mana yang terbaik untukmu, dengan jalan memisahkan kalian. Allah rindu, Allah cemburu dek. Allah ingin cintamu tulus hanya untuk Nya. Ada saatnya dimana kamu akan meletakan rasa sayang itu, suatu saat nanti, bukan untuk kekasihmu, bukan. Tetapi untuk partner hidupmu, imam yang memimpin hidupmu menuju kebaikan demi kebaikan Nya.

Mungkin akan terasa begitu jauh dari pelupuk mata jika aku harus menggambarkan kehidupan pernikahan dengan segala keindahannya. Itu pun masih katanya, kata mereka yang sudah merasakannya. Tapi percayalah dek, umur belasan sepertimu bukan berarti harus merasakan pacaran. Okelah, lingkungan kita tak se-agamis lingkungan pesantren. Tapi itu tantangannya dek, tantangan untuk melawan arus demi sebuah kebaikan besar. Kakakmu ini tak banyak pengalaman memang, tapi setidaknya punya secuil garam bisa kubagikan untukmu dek. Segala yang indah itu butuh perjuangan, tak ada yang instan. Dan yakin, kamu bisa kembali ceria dan bahkan lebih ceria dari biasanya. Allah selalu menyimpan kado istimewa untuk hamba Nya. Nanti, di waktu yang tepat dan tak terprediksi oleh kita.

Janji ya untuk segera move up, tak sekedar move on.

Allah sayang kamu, dek. Dan surat instan ini, tanda sayang kita untukmu. Kamu bisa!

Sabtu, 21 Maret 2015

Teater tak sekedar pementasan

Setiap manusia memiliki kepentingan yang berbeda. Mereka bergerak atas dasar logika dan keinginan yang memuncak untuk menwujudkan segala impian dan cita-cita. Namun tak jarang dari segelintir kepentingan merusak naluri dan akal sehatnya.




Komunitas teater Rondjong bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta menyuguhkan sebuah edukasi dalam bentuk teater beraliran realis dengan judul "Jurang" yang digelar di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 19-20 Maret 2015. Luar biasa, mereka mampu mengemas sebuah cerita yang diangkat dari kehidupan sekeliling kita, dan disajikan dengan penuh pembelajaran kehidupan. Bahwa manusia adalah tempat tertanam besarnya ego, satu sama lain tak mau terkalahkan untuk mengejar ambisi. Bahkan rasa kemanusiaan pun kadang terkikis oleh kerasnya kehidupan. Dilakoni oleh salah satu sutradara anak bangsa, Hanung Bramantyo, teater ini menjadi rebutan penikmat pentas drama. Tapi sayang, jika para penonton hanya melihat dari sisi Hanung, teater butuh penghargaan lebih. Ia ada bukan hanya karena sekedar hiburan semata, seni dan nilai kehidupan yang ditonjolkan dalam setiap pementasan ini perlu apresiasi lebih dari kita.  

Bercerita tentang berbagai karakter manusia yang masing-masing punya kepentingan yang tak seragam. Keseragaman hanya ada pada ambisi untuk menang dan mengalahkan lawan. Tak pandang ia kawan, sahabat bahkan saudara. Ada satu dialog yang terekam kuat pada ingatan saya, ketika dua tokoh penting dalam teater tersebut bersiteru perkara pemecahan sebuah masalah yang belum berujung hingga hari petang, sehingga salah satu dari tokoh tersebut naik pitam, tokoh sepuh dalam teater tersebut kemudian berkata kurang lebih begini : "Hai anak muda, apa yang kamu tangkap hanya lah sebagian dari apa yang aku katakan. Dan yang engkau lihat hanyalah sebongkah gunung es, hanya sebagiannya saja. Sedangkan bagian terbesarnya ada di dalam dasar, bukan di permukaan." Begitu banyak di luar sana yang sebenarnya tak faham betul dengan apa yang ia katakan dan apa yang ia "perjuangkan" tetapi sebenarnya ia tak mengerti betul apa yang sedang ia lakukan. Dan begitu banyak pula orang diluar sana yang sebenarnya fasih dan mengerti secara mendalam tetapi enggan untuk peduli dengan sesamanya. 

Berbicara tentang nasionalis, kapitalis dan terkikisnya kemanusiaan. Tergambar secara gamblang dalam teater yang disutradarai oleh Agustinus Budi Setianto ini benar-benar menarik peminat teater Yogyakarta. Semoga semakin berkembang teater Indonesia yang sarat akan nilai kemanusiaan seperti ini. Karena teater tak hanya sekedar pementasan yang penuh tepuk tangan riuh, ada nilai yang diangkat dalam setiap gerak tokoh dan dialognya. Apresiasi besar untuk para seniman Indonesia.