Selasa, 19 Mei 2015

Special lettering

Ia, Adelia Devita Sari.

Kami berteman cukup lama, sejak masa kuliah dulu. Tapi tak sedekat ini. Sebatas saling tegur sapa saat bertemu, berbincang seputar perkuliahan, dan hanya itu. 

Dua hari yang lalu, ia berkunjung ke Jogja. Kami terlibat dalam satu target bisnis, dan bekerjasama dalam sebuah keinginan besar untuk mendobrak dunia fashion. Saling bertukar pendapat, berbagi ide, dan ya lagi-lagi obrolan demi obrolan membawa kami pada "curhat colongan". Begitu lah wanita, bukan. 

Adel, kerap bercerita tentang banyak hal yang ia alami. Mulai dari perbincangan seputar kantor, lingkungan Bali dengan segala adat dan budaya yang baru, tugas keluar kota dengan segala rutinitasnya, hingga soal asmara. 

Dulu, aku mengenalnya dengan typical wanita salihah yang dingin dan tak empan dengan bujuk rayu pria. Konsisten pada prinsipnya, dan satu lagi mahasiswi lembaga dakwah kampus yang salihah. Itu!
Tapi, ada hal yang berbeda dengan Adel yang sekarang. Ia tak sedingin saat kuliah dulu. Persahabatan kami membawa obrolan pribadi, hingga saat itu ia menceritakan satu hal yang sungguh tak kuduga. Adel jatuh cinta!

Perkara cinta untuk umuran kami memang bukan hal yang tabu lagi. Bahkan lebih jauh dari sekedar cinta, menginjak usia 23 tahun 24 tahun 25 tahun perbincangan seputar jodoh layaknya kopi di pagi hari. Bagaikan ritual upacara senin saat sekolah, dan seperti konsumsi obat tiga kali sehari. Haha, lupakan.

Well, Adel yang sekarang saatnya menentukan pilihan. Tetapi, lagi-lagi manusia terkadang terperangkap dengan logikanya sendiri. Menerka dan menerawang jauh kedepan, yang sebeneranya itu semua hanya ilusi belaka. Jodoh, sampai kapanpun tak akan dapat di-teori-kan. Karena Sang Maha Mengatur lah yang nanti akan membimbing jalan kita bertemu dengannya, partner perjalanan hidup hingga menuju jannah Nya. Insyaallah.

Tak perlu contoh yang jauh, persahabatan kami ini bukan hal yang direncakan, bukan pula hak yang terpikirkan sebelumnya. Dulu, kami berada di kota yang sama, kampus yang sama, hingga tempat tinggal yang begitu berdekatan. Tetapi apa? Sekalipun kami bercerita panjang lebar, berdiskusi tentang kehidupan atau bahkan curhat masalah pribadi, tak pernah kami lakukan. Sekalipun!

Tetapi, saat ini, kami di kota yang berbeda, dengan budaya yang berbeda, waktu yang berbeda, kesibukan yang berbeda dan dengan setumpuk perbedaan yang ada. Tapi Tuhan mengatur kami untuk bertemu, bersahabat, dekat dan memahami satu sama lain. 

Dan semua ini hanya waktu yang mengerti, ia yang akan membawa logika kita nanti pada akhirnya akan tersadarkan bahwa kehidupan adalah bukan tentang apa saja yang kita inginkan. Tetapi kehidupan adalah tentang apa yang terbaik untuk kita, dan kapan waktu yang tepat untuk kita dapatkan.

Sahabatku Adel, tetap jadilah wanita tangguh seperti yang aku kenal dulu. Percayakan segala nya pada Yang Maha Pengatur, karena nanti akan ada waktu terbaik untukmu bertemu dengan nya bukan? Kita hanya perlu sedikit menekan ego, menepis segala praduga dan menghalau keinginan sesaat. Ada seseorang yang menunggumu, nanti. Diwaktu yang tepat.

Kita wanita istimewa, bukan :) 

Jumat, 08 Mei 2015

Karena DIA selalu ada

Malam ini, begitu syahdu bukan?

Sekalipun tak terdengar rintik hujan, tapi terasa tenang daman nyaman. Bukan karena akhir pekan, sekali lagi bukan. Karena aku merasa banyak pelajaran yang kupetik dari skenario Nya. 

Tentang hati?

Bukan, lagi-lagi bukan. Perjalan  hidup yang mengantarkan satu hikmah ke hikmah lainnya tak membuat gusar dengan peraduan hati. Dia tak pernah berdusta. Yang saat ini kupercaya, adalah, bahwa memantaskan diri tak mengenal pamrih. Ikhlas, hanya karena kecintaan pada Nya.

Bukan begitu?

Ya, tepat. Terkadang, kita terlalu cepat berkata tanpa berfikir lebih dalam bahwa segala perkara adalah bermula dari kata. Tuhan menguji kita karena yang tak bertulang itu. Berhati-hati lah.
Tetapi, setiap yang terjadi selalu berakhir dengan kata mengerti. Kini aku "mengerti" bahwa yang terbaik tak selalu datang dari apa yang kita inginkan. Kini aku "mengerti" bahwa belajar tak hanya dengan rumus akuntansi. Dan kini aku "mengerti" bahwa selalu tersimpan keindahan jika kita melihat dari sisi indah kita.

Masih belum mengerti?

Aku pun. 

Karena kita berproses pada jalur hikmah yang berbeda. Pada titik pendewasaan dan kematangan yang tak seragam. Hanya satu hal yang membuat kita sama, kita sama-sama dipersatukan pada hati yang tertuju pada Nya. Karena Dia, selalu ada dimanapun kita berada. 


Rabu, 01 April 2015

You must move up, sister!

Teruntuk adek seatap yang tak serahim. 

Aku menyayangimu layaknya aku memperlakukan kedua adik kandungku. Kalian semua menjadi tanggung jawabku selama setiap malam datang kita masih terlelap dalam atap yang sama. Hai adek seberang kamar, kamu tak sendirian. Jika sampai detik ini putus cinta masih membuatmu tak semangat kuliah, masih teringat segala kenangan bersamanya, masih memupuk rasa rindu mendalam. Cukup. Hentikan segala perasaan menyakitkan itu. Kamu berhak bahagia dek, melebihi bahagiamu ketika bersamanya. Jika perjalanan dalam hitungan bulan itu masih membuatmu terperangkap dalam lamunan, move up! Bergeraklah menuju kebahagiaan lain. Yang aku yakini, kamu tak serapuh itu. Orangtua kita tak akan rela melihat buah hatinya termenung di kota pelajar ini. Tugas kita belajar kan dek, bukan menyesali apa yang telah terjadi dibelakang. Kamu tahu, Allah begitu menyayangimu. Allah Maha Tahu mana yang terbaik untukmu, dengan jalan memisahkan kalian. Allah rindu, Allah cemburu dek. Allah ingin cintamu tulus hanya untuk Nya. Ada saatnya dimana kamu akan meletakan rasa sayang itu, suatu saat nanti, bukan untuk kekasihmu, bukan. Tetapi untuk partner hidupmu, imam yang memimpin hidupmu menuju kebaikan demi kebaikan Nya.

Mungkin akan terasa begitu jauh dari pelupuk mata jika aku harus menggambarkan kehidupan pernikahan dengan segala keindahannya. Itu pun masih katanya, kata mereka yang sudah merasakannya. Tapi percayalah dek, umur belasan sepertimu bukan berarti harus merasakan pacaran. Okelah, lingkungan kita tak se-agamis lingkungan pesantren. Tapi itu tantangannya dek, tantangan untuk melawan arus demi sebuah kebaikan besar. Kakakmu ini tak banyak pengalaman memang, tapi setidaknya punya secuil garam bisa kubagikan untukmu dek. Segala yang indah itu butuh perjuangan, tak ada yang instan. Dan yakin, kamu bisa kembali ceria dan bahkan lebih ceria dari biasanya. Allah selalu menyimpan kado istimewa untuk hamba Nya. Nanti, di waktu yang tepat dan tak terprediksi oleh kita.

Janji ya untuk segera move up, tak sekedar move on.

Allah sayang kamu, dek. Dan surat instan ini, tanda sayang kita untukmu. Kamu bisa!