Minggu, 27 September 2015

Berhenti menyalahkan Tuhan dan membandingkan pemberian Nya

Seringkali, kita mendengar keluhan dalam doa kita. Bahwa Tuhan tak adil dalam memberikan apa yang kita pinta. Kemudian hati mulai diracuni oleh logika yang terkadang jauh dari kata logis. Membandingkan apa yang kita terima dengan apa yang diterima oleh orang lain. Kemudian muncul rasa ketidak adilan Tuhan, Tuhan tak adil dalam mengabulkan doa. Begitu seterusnya, penuh dengan perbandingkan.

Tuhan selalu menjadi sorotan atas rasa ketidak adilan yang kita terima. Tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Terus saja seperti ini. Hingga ketika Tuhan membuka jalan yang kita inginkan, memberikan cahaya pada pilihan Nya, barulah kita tersadar bahwa segala yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita, tak tertandingi.

Begitulah manusia, yang katanya adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk lainnya. Yang diberikan akal yang sempurna dan Tuhan titipkan hati untuk meluruskan fikirannya. Tetapi lagi-lagi, makhluk paling sempurna ini kerap melukai penciptanya. Selalu penuh dengan prasangka bahwa apa yang ia terima adalah ketidak adilan Tuhan padanya. Padahal, mata yang Dia berikan, bukan untuk membandingkan, telinga yang Dia pasangkan, bukan untuk mencuri kebahagiaan. Tuhan selalu adil dalam memberikan apa yang kita inginkan. Teramat adil.

Kita lah, yang katanya makhluk paling sempurna ini yang tak tahu diri. Melihat kebahagiaan orang lain, lalu mulai membandingkan dengan apa yang menjadi kebahagiaan diri kita. Lalu muncul ketidakadilan itu. Muncul rasa tak terima dengan apa yang oranglain terima. Padahal, kita tak pernah tahu, dalam lelap kita, mereka yang berbahagia selalu terbangun dan berdoa pada Nya. Dalam selimut kita, mereka yang berbahagia terbangun dan bermunajat pada Nya. Dan saat kita terlalu disibukkan dengan perkara dunia, mereka yang berbahagia selalu menjumpai penciptanya tepat pada waktu Nya.

Kemudian, Tuhan selalu melapangkan segala hajatnya. Memberi kemudahan disetiap langkahnya. Dan kita masih pada prasangka tidak terima dalam ketidakadilan kita. Dimana letak ketidakadilan Tuhan?

Manusia, yang katanya jauh lebih mulia dibanding makhluk lainnya, masih merasakan ketidak adilan Nya. Dimana letak ketidakadilan Tuhan?

Kita yang selalu menunda ketika panggilanNya tiba, dan lebih mengutamakan apa yang ada di depan mata, menyampingkan perkara yang sudah jelas menjanjikan karunia, masih merasa bahwa Tuhan tak adil dengan hamba Nya. Dimana letak ketidakadilan Tuhan?

Manusia, yang katanya makhluk paling sempurna, kita yang sebenarnya tak adil dengan dirikita, bahkan mungkin juga pada Sang Maha Pencipta. Dekati Dia dengan segala waktu yang kita punya. Janji Nya tak pernah ingkar. Tuhan selalu menjumpai kita pada doa tertinggi kita. Kapanpun, dimanapun. Tuhan tak pernah tak adil.

Kita, yang perlu mengadili diri kita. Dan berhenti membandingkan pemberian Nya. Karena Dia, memberi sesuai dengan prasangka hamba Nya. Dan karena sampai kapan pun, proses tak akan pernah menghianati hasil. Dia selalu menjumpai dalam doa dan proses kita. Trust me!

Senin, 06 Juli 2015

Pagi :)

Pagi yang cerah
Seperti biasa, kicau burung dan awan putih
Masih berhembus pada arah mata angin yang sama
Dan selalu
Kutemukan satu titik yang menyentuh qolbu
Apa lagi, jika bukan karena Dia Sang Maha Indah
Begitu indah

Maka, nikmat Tuhan yang mana kah yang kamu dustakan?

Kamis, 02 Juli 2015

Just follow your heart, and let's write!

Menulis itu, bukan perkara bisa atau tidak
Menulis, ya menulis saja
Cukup dengan menggunakan hati, sejernih mungkin
Karena percuma jika memiliki segudang teori menulis tetapi tak ber"hati" ketika menulis

Menulis itu bukan perkara target
Kualitas tulisan kita akan terlihat berbeda, ketika hanya sekedar ingin menulis dengan ditargetkan
Karena menulis itu, mengalir saja
Ikuti kata hati, dan mulai menulis dengan hati

Segala yang teraba oleh raga tak semua terasa oleh jiwa
Karena nya, media ini yang menjembatani keduanya
Menulislah,
Tidak ada yang tak bisa menulis, semua bisa

Sekali lagi, semua bisa

Hanya saja, setiap dari kita memiliki rasa yang berbeda
Sehingga, tak ada yang salah dengan tulisan siapapun
Karena, lagi-lagi proses dan pendewasaan kita berbeda

Tak apa, begitulah menulis
Layaknya berproses dalam hidup
Ada saatnya kita menoleh kebelakang, dan menertawakannya
kemudian beranjak, memperbaiki proses yang terlewati

Hingga, ada saatnya, nanti, kita tertegun dengan proses mencintai tulisan kita sendiri
Karena menulis tak pernah menuntut banyak
Menulis tak muluk-muluk
Cukup ikuti kata hati, dan ya menulislah

Sekarang juga :)