Jumat, 11 Desember 2015

Tuhan memberikan, saat kita siap menerima

(Pic from Google)

Hidup itu kudu di target, kudu dikejar, enggak asal jalanin doang” pesan Ustadz Yusuf Mansur di berbagai ceramah beliau. Termasuk perkara jodoh.

Ditargetin dong, bos, kagak asal yang penting dapet jodoh aje” “Lah elu, suruh nikah ogah, tapi pacaran mulu” beliau menambahkan, dengan gaya khas Ustadz Yusuf Mansur.

Kejar target? Kenapa enggak? Emang ada yang salah? Lawong dengan menikah berkahnya luar biasa, dengan menikah Allah bukakan pintu rizki dari segala arah. Janji Allah pasti, manusia-nya aja yang kepinteran, kebanyakan mikir ini-itu. Terlalu perhitungan sama perkara dunia.

“Kok doa-nya gitu sih? Kok ditarget umur 25 gitu? Itu kan men-dikte Allah namanya?”

Ini nih, yang begini ini nggak percaya banget sama kuasa Allah. Sejak kapan kita yang manusia biasa ini bisa men-dikte Allah. Semua yang terjadi sama kita ya atas kehendak-Nya, nggak ada itu istilah men-dikte. Kalau Allah KUN, FAYAKUN. Allah berikan yang terbaik buat kita, jika kita dimampukan Allah menikah sesuai dengan target umur kita, Allah memudahkan jalan kita.

Wes to, percaya. Yakin.

Nah, kalau udah di target gitu, ngejarnya pakai doa, usaha, ikhtiar. Perbaiki diri terus, terus dan terus. Perkara Allah meng-ijabah-nya di usia berapa, usaha kita untuk menuju ke usia 25 akan menikah itu kudu total, doa bener minta sama Allah. Yakin, percaya, Allah memudahkan. Jangan asal jalanin hidup aja, lempeng aja nggak ada target sama sekali. Bakal beda ikhtiarnya kita.

Tuhan Maha Oke.

Allah, Maha Pemurah, Maha Mengabulkan doa umat-Nya. Tapi kitanya yang sibuk merevisi doa-doa kita.

“ya Allah, pingin banget nikah di usia 25 tahun, tapi kan itu masih masa-masa meniti karir ya Allah, kalau gitu umur 30 tahun aja ya Allah, tapi kalau mau bikin pesta pernikahan yang mewah kan perlu banyak nabung, 35 tahun saja ya Allah”

Terus, terus dan gitu terus. Kita sibuk me-revisi doa-doa kita, tidak menyibukan dalam menjemput dan mengikhtiarkan target kita. Padahal, bisa jadi Allah sudah menghadiahkan seorang jodoh untuk kita tepat di usia 25 tahun, tetapi kita yang tidak siap hanya karena disibukkan dengan perkara dunia.

Sudahlah, segala niat baik, diluruskan saja. Insyaallah, kemudahan demi kemudahan akan Allah berikan untuk kita semua. Insyaallah.

Yang terpenting, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Percaya. Yakin.

Senin, 07 Desember 2015

Berjuang-lah!

Tak peduli apa kata orang, roda kehidupan ada ditangan Nya dan kekuatan usahamu!
Tak peduli cemooh-an, toh ada maupun tidak ada hujatan, tujuannya cuma satu kan, pada mimpi dan cita-citamu!
Tak peduli orang berkata apa, sekecil apapun usaha akan membuahkan hasil! 
Tak peduli bagaimana hasil dari jerih payah dan keringatmu, yang jauh lebih penting adalah ikhtiar dan doa-mu sejalan dengan tujuan dan cita-citamu!
Tak peduli bagaimana pada akhirnya, karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik untukmu!
Tak peduli mimpi mana yang akan terwujud terlebih dahulu, tugasmu adalah merealisasikannya satu per-satu!
Tak peduli seberapa banyak orang menyanjungmu nanti, tugas utama setelah yang kesekian kalinya adalah menjadi insan yang tetap dan selalu TAWADHU di hadapan-Nya serta sesama

Berjuang-lah!

Selasa, 06 Oktober 2015

Cintai-lah dengan sungguh-sungguh

Sudah bekerja?
Sudah mendapat gaji tetap?
Mendapat income berlipat?
Oke.  Selamat!

Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, menikmati perekerjaan selama ini tidak? Jika IYA, maka bersyukurlah, anda termasuk pada golongan orang-orang yang mengerti akan arti MENCINTAI.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mendatangi saya dan bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya. Dengan segudang kesibukan dan jadwal yang kerap berbenturan. Ada keinginan untuk melepas, tetapi ia tak bisa meninggalkan begitu saja, karena pendapatan dari pekerjaannya sangat menjanjikan. Oke, ini problem besar. Mari kita diskusikan bersama.

Diluar sana, kebanyakan dari kita bekerja hanya karena financial yang menjadi tujuan. Tak peduli bagaimana ritme kerja yang akan dijalankan maupun konsekuensi fisik yang menyebabkan kelelahan atau dampak lain dari itu. Tentu tak mengapa, karena setiap pilihan pasti menuntut konsekuensi dan tanggung jawab. Tetapi, akan menjadi masalah, jika, apa yang selama ini dijalankan adalah tak seimbang dengan apa yang kita dapatkan.

Konteks MENCINTAI ini yang memiliki banyak perspektif di kalangan pekerja, dari kantoran hingga pengusaha. Sebagian orang, memilih mencari pekerjaaan karena CINTA UANG, apapun akan ia lakukan karena uang yang menjadi target utama. Suka tidak suka, menikmati tidak menikmati, ia akan menjalani, walaupun tak sepenuh hati. Karena yang terpenting adalah punya banyak UANG. Toh, bahagia bisa didapat dengan membeli segala yang menjadi keinginan hati. Tetapi, sebagian dari kita, memilih mencari pekerjaan karena CINTA. Ia bekerja dengan segala kenyamanan dan passion yang ia miliki. Tak pernah ada kata gelisah dalam hidupnya, karena ia benar-benar MENCINTAI pekerjaan yang ia jalani. Sekalipun, tak jarang pendapatan yang diperoleh mengalami fluktuasi. Tetapi yang ia yakini adalah kebahagiaan hati tak akan pernah terbeli. Kemudian ia akan selalu menekuni pekerjaan yang ia jalani dengan sepenuh hati dan CINTA yang tak bertepi, hingga waktu yang menjawab nanti. Mereka yang berada pada CINTA dengan pilihannya, tak pernah mengeluh, karena selalu menikmati disetiap prosesnya. Hingga ada saatnya, UANG lah yang akan datang menghampiri.

Sudah memilih diantara keduanya?
Lalu,
Mau sekedar pilihan, atau menjadi yang terpilih?

Oke, jika memang sudah terjebak diantara kedunya, maka, yang sebaiknya dilakukan adalah tak banyak. Karena mau tak mau tuntutan pekerjaan mewajibkan untuk bertindak profesional. Hanya dengan MENCINTAI SUNGGUH-SUNGGUH. Lagi-lagi bersyukur sekali jika kita sudah berada pada CINTA dengan apa yang kita kerjakan selama ini, apalagi jika aliran financial pun tak henti. Karena, sampai kapanpun proses tak akan pernah menghianati hasil bukan? Karena yang terpenting adalah SUNGGUH-SUNGGUH.

Jika masih terjebak dalam ketidaknyaman pekerjaan tetapi menginginkan banyak UANG, so, mulailah dengan perlahan MENCINTAI pekerjaan itu. Karena setiap keputusan yang telah diambil adalah menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikannya sampai akhir. Jika memang masih dirasa berat, pilihan lain adalah mulailah kembali MENCINTAI diri anda terlebih dahulu, MENCINTAI pekerjaan yang memang sesuai dengan panggilan hati, dan kemudian MENCINTAI dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi pilihan. Hindari mengeluh dan berkesah, karena tak akan menyelesaikan masalah. Bersyukurlah, karena Tuhan sangat teramat berbaik hati. Pekerjaan itu, bukan hanya perkara finansial, tapi juga mencari ridho Nya bukan? 

Maka, CINTAI-LAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH!