Selasa, 22 April 2014

Periode kesayangan




TIM PROMO Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Disini keluarga baru itu terbentuk. Karakter yang berbeda, background keluarga yang beragam serta sekian banyak perbedaan diantara kita tak terlihat sama sekali. Kita semua satu, sering ku menyebutnya dengan keluarga lantai tiga. Awal periode yang begitu menyenangkan. Kehangatan sebuah keluarga yang tak dapat tergantikan. Aku merindukan kalian, keluarga lantai tiga ku. 

Benar adanya, memory kita mudah sekali berputar ketika melihat sebuah foto masa lalu. Ah tidak, aku tak ingin menyebut periode kesayanganku dengan kata masa lalu. Masa-masa alay itu ternyata mampu memberikan porsi tersendiri dalam ingatanku. Betapa tidak, hampir sekuruh hari terhabiskan bersama kalian di kantor mungil itu. Dealing, roadshow, LPJ dan sekian banyak rutinitas yang menyatukan kita. Pulang kuliah ku tak lagi kos, pulang kuliah ku bersama kalian di lantai tiga itu. Bahkan terkadang skripsi pun, tak ku kejar di perpustakaan layaknya mahasiswa tingkat akhir lainnya. Masih sama dengan yang sebelumnya. Ya, di lantai tiga kantor mungil kita itu. 

Suatu saat nanti, janjikan padaku untuk kita berkumpul kembali dan membawa segudang cerita kehidupan. Sukses buat kita semua, keluarga lantai tiga kesayanganku. Sayang kalian!


Minggu, 13 April 2014

Dia, inspirasi

Tiba-tiba ia datang dan pergi, tanpa arah tanpa haluan. Begitulah dirinya, seolah tanpa beban dan tak bersalah. Sebuah nama yang kusebut "inspirasi" ia tak pernah henti berdatangan di waktu yang tak pernah bisa diprediksi.
Singkat kata pagi ini ingin kembali produktif menulis, tetapi ia yang kutunggu belum hadir. Inspirasi, bisa datangkah pagi ini? Betapa aku merindukan moment dimana engkau berlarian seolah mengejar jari jemari dan ia berlari membentuk kata kaliamat dan paragraf hingga akhirnya menjadi sebuah tulisan. Aku merindukan moment itu. Sangat.

Rabu, 26 Maret 2014

Si manis nan cerdas, DENISA

Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Saat ia masih menikmati masa-masa bermain, penuh canda dan tawa. Belum ada teriakan untuk segera mengerjakan tugas sekolah ataupun belajar untuk persiapan ujian. Namanya DENISA, seorang anak cerdas dan selalu ingin tahu. Tak ada aliran darah setetes pun memang antara aku dengan nya. Tapi kedekatan kita berdua layaknya kakak dan adik tanpa sekat, atau mungkin lebih dari itu. DENISA anak pertama bapak kost, dimana tempatku beristirahat dan melepas penat sejak awal memasuki kota pelajar ini hingga saat ini. Ruangan berukuran 4,5x3 itu memberikan kenyamanan yang luar biasa, selalu memberi inspirasi tersendiri.

Foto itu, tiga tahun yang lalu. Kala DENISA masih sering mengetuk pintu kamarku dan memanggil-manggil namaku seakan kita layaknya teman bermain sebaya. Tak jarang ia menugguku di balkon depan kamar hingga pulang kuliah. Teramat dekat memang. Ketika adzan terdengar, ia dengan lantang mengajak ku untuk segera mengambil wudhu dan sholat berjamaah berdua, hanya aku dan DENISA. Entah karena ia ingin bermain air, atau memang Tuhan memberikan kepekaan rohani padanya. Dikala sholat, ia terkadang mengikutiku komat-kamit membaca doa. Dan bersyukurnya, ia hafal surat-surat pendek dengan gerakan sholat yang pantas diacungi jempol untuk anak seusianya. Menjadi rutinitas kami berdua saat itu, jika selesai sholat kami membaca ayat suci Al-Quran. Tanpa kuminta dan tanpa aba-aba apapun dariku, dengan sigap ia segera mengambil Al-Quran dan Iqra’ dari atas meja belajar. “Yang ini buat mbak putri” ia memberiku Al-Quran bersampul ungu kebiruan itu. Kubalas dengan senyum dan kita mulai mengaji. Disanalah aku merasakan betapa Tuhan tak pernah melewatkan setitik bagian terkecil dari kehidupan. Termasuk anugrah yang luar biasa tak terkira, yaitu seorang anak. Betapa bahagianya ketika Tuhan memberi kepercayaan untuk satu hal ini. Dan betapa bersyukurnya kita dilahirkan dari orang tua yang tak lelah mendidik dan membesarkan kita. Sudah, hentikan, cukup sampai disini saja, pembahasan orang tua dan anak selalu berakhir pada butiran air mata. Seolah tak ada yang dapat menggantikan kasih sayang mereka, sungguh tak akan pernah ada.

Kembali pada cerita DENISA. Ia sekarang tumbuh menjadi anak yang pintar. Waktu bermain dan mengunjungi ruangan penuh inspirasi itu sudah jarang ia dapatkan. Kenaikan level pendidikan membuatnya harus belajar akan tanggung jawab. Dan ia berhasil melewati tanggung jawab itu dengan predikat sangat memuaskan. Di Sekolah Dasar tempat ia bersekolah saat ini, tak pernah sekalipun terlewatkan dari peringkat pertama. Bangga, tak ada kata lain.  DENISA, ia pun berhasil mengemas cerita tiga tahun lalu itu menjadi sebuah kenangan manis. DENISA, ia bocah pilihan Tuhan.