Senin, 28 Januari 2019

Selamat datang 2019

Hai, apa kabar?

Semoga semua mimpi masih terawat dengan baik, ya. Begitu pun dengan ku. 

Lama tak menyapa terkadang menjadi penghalang untuk tetap bisa setia bersama, walau hanya dengan memulai dari sebuah kata. Aku merasakannya, sungguh. Bahkan, menuliskan kata 'hai' di baris pertama itu masih terasa berat jika tidak tekat yang kemudian menakhlukkan semuanya. 

Kali ini mungkin aku hanya sekedar menyapa, memberikan signal positif bahwa kehidupan dalam deretan tinta yang tak tergores ini masih berjalan. Dan sesungguhnya hatiku pun merindukan, sangat!

Baris pertama yang menjadi pembuka itu, bukan hanya sekedar sapaan basa-basi belaka. Ini adalah permulaan yang baik, untuk menemukan kembali segala hal yang pernah terhenti. Dan aku tahu, memulainya harus dengan sesuatu yang bisa menumbuhkan rindu. Kamu. Ya, apa kabar kamu?

Awal tahun sepertinya kerap kali menjadi momentum terbaik untuk merancang kembali mimpi. Entah melakukan segala list yang belum terealisasi, atau pun kembali menyusun mimpi dikemudian hari. Yang jauh lebih penting bagi si perawat mimpi adalah segala yang telah diangkankan akan menjadi nyata di depan mata hingga saatnya tiba. Sepakat, kan?

Kabar baiknya, bulan pertama di tahun baru ini sudah hampir terpenuhi semuanya. Hanya dalam hitungan hari, pergantian bulan akan segera kita temui kembali. Sama seperti yang kita rasakan di tahun-tahun sebelumnya. Januari menuju Februari jugalah waktu yang tepat untuk memeriksa mimpi. Sudah seberapa jauh langkah kita untuk menjadikan mimpi-mimpi itu nyata. 

Semoga deretan yang tertuliskan di awal tahun ini sudah ada banyak hal yang terdeteksi menjadi realita, ya! Percayakan pada kekuatan yang ada pada diri kita. Jika kita bisa memimpikannya, yakin dan percayalah bahwa Tuhan akan menjadikan semuanya menjadi nyata. 

Mari, berjuang!


Jumat, 14 Oktober 2016

Penggalan cerita harian #1

Pagi hari, Yogyakarta masih diliputi cuaca yang cukup membuat menggigil. Tetapi bagaimanapun Yogya, tetap saja istimewa. Seperti biasanya, pagi hari adalah rutinitas wajib untuk membuka jendela kamar terlebih dahulu. Kicauan burung gereja di pucuk ranting pohon depan rumah masih saja menghiasi pemandangan kala pagi hari. Suaranya yang kecil dan merdu, menambah nuansa syahdu. 

Tak banyak yang berbeda dari pagi-pagi biasanya. Tepat pukul 06.00, penjual sayur sebelah rumah sudah mulai disibukkan dengan pelanggan. Aku pun begitu, pagi ini memilih membeli beberapa keperluan memasak terlebih dahulu. Lalu membersihkan halaman depan dan kembali menyapa burung-burung kecil itu. Entah kenapa, sejak awal pindah rumah, burung-burung ini begitu menyita perhatian. Aku ingat betul, kala pagi dan sore hari mereka berterbangan di atas pohon besar. Tak hanya satu atau dua, banyak sekali. Seperti prajurit-prajurit kecil, berterbangan dengan rapi.

Kembali pada rutinitas akhir pekanku, berbenah rumah dan menata ulang perabot rumah. Rutin kulakukan, sedari duduk di bangku sekolah (dulu). Hingga tak jarang, saat Mama pulang dari kantor, rumah sudah dengan suasana baru. Welcome home, Ma! Teriakku kala itu. Mama tersenyum bahagia, karena seisi rumah sudah rapi tanpa sisa. Kemudian Mama melihat sudut-sudut ruangan yang sudah berganti tatanan. Dan hingga sekarang, ritual ini masih melekat erat, di rumah baru kami.

Matahari mulai masuk, melewati celah-celah menuju lorong dalam rumah. Pagi yang dingin mulai tergantikan dengan sinar matahari. Aku menuju dapur, menyiapkan sarapan pagi. Segelas susu dan roti, selalu menjadi pilihan menu yang sampai sekarang tak tergantikan. Teguk demi tegukan, sambil melihat to-do-list yang telah kutuliskan semalam. 

Oke, saatnya merealisasikan. Do your best!

Morning :)


Senin, 18 April 2016

Belajar, mengisi dan memberi

Mendidik tak hanya soal niat, tetapi juga meluruskan niat
Bukan perkara letak, bukan juga perkara jarak
Mendididk, bukan juga kerena apa, tetapi untuk siapa
Setiap anak adalah generasi penerus bangsa
Tak pandang ras, suku, maupun agama
Mereka semua berhak untuk cerdas
Mereka punya hak untuk memimpin, melanjutkan mimpi dan angan menjadi kenyataan

Tugas seorang pendidik, bukan menjadikan mereka pintar
Tetapi memberikan pendidikan
Melaksanakan kewajiban untuk melanjutkan rantai pengetahuan
Bahwa, berada di depan bukan jaminan yang terdepan
Kami semua sama, tak pandang dosen maupun mahasiswa
Sama-sama belajar, saling mengisi dan memberi

Semangat belajar mereka mengagumkan
Proses belajar mengajar dan diskusi pun Alhamdulillah selalu berjalan lancar
Ya, walau tak jarang, satu diantara mereka sering bertingkah menggelikan
Tetapi tak mengapa, begitu lah proses belajar, penuh dengan keaneragaman

Terimakasih, dari kalian, Ibu banyak memetik pelajaran

Putri Demi Aridi,
Pembelajar amatiran yang tak akan henti belajar
Dan akan terus belajar

Minggu, 20 Maret 2016

Pilihan

Setiap orang punya kisah yang berbeda
Kehidupan membawa pada pilihan demi pilihan
Memilih, menjadi bagian yang tak terlepaskan dari kehidupan manusia
Yang terkadang, bak mata uang logam dengan dua sisi-nya
Memilih, menjadi keputusan pembawa masa depan
Bagaimana pilihan hidup hari ini, esok dan esok hari lagi?
Jika yang lain memilih untuk berpendapat dan meminta pendapat, aku memilih diam
Tak bersuara dan terdiam dalam perenungan
Biarkan pilihanku hanya Tuhan dan hati kecilku yang tahu
Tak ter-intimidasi
Biarkan ia melaju tanpa rasa ingin dipuji 
Menjauh dari hingar-bingar kepalsuan
Dan menang dalam kesunyian 
Hingga nanti, mereka akan mengerti
Bahwa hidup adalah pilihan 
Memilih, untuk hidup menuju yang kekal abadi
Pada DIA, Sang Maha Pemberi 

Kamis, 04 Februari 2016

I'm happy today!

Bahagia adalah roda kehidupan yang harus diperjuangkan. Karena bahagia tak sekedar di dapat dari menjalani kehidupan biasa saja. Tetapi, butuh energi lebih untik dapat bahagia. Ah, tidak. Tidak begitu. Benarkah bahagia se-rumit itu? Rasanya, Tuhan tak pernah menyusahkan kita, termasuk perkara bahagia. Yang terpenting adalah syukur. Rasa syukurnya dilipat-gandakan, bahagia-nya tak terkira. Selamat malam, hari ini begitu mem-bahagia-kan bukan?

Alhamdulillah, Tuhan Maha Baik, selalu menyelipkan bahagia pada umat Nya. Syukurnya ditambah, ya :)

Kamis, 24 Desember 2015

Fashion Mood-Board

Firstly, you have to know why this is a very useful tool and what a moodboard is used for. It's one of the most important steps to help you formulate all of your big ideas!

Well, what is Mood-Board?

A mood board is a tool used by fashion-designers to help them get a good idea. Mood boards are basically collages of items such as photographs, sketches, clippings, fabric swatches and color samples. A fashion mood board usually has sketches of garments as the main focus of the board. Fashion boards may also have magazine clippings or other sketches of what inspired the designer such as pictures. 

Your mood board ideas consist of everything that you like and dream about having in your design project.There are many tools you can use to create a mood board. Sometimes printing out images and sticking them on a cork board works. 

So, let's create a mood board. Take your holiday with a productive thing, hiyey!




Jumat, 11 Desember 2015

Tuhan memberikan, saat kita siap menerima

(Pic from Google)

Hidup itu kudu di target, kudu dikejar, enggak asal jalanin doang” pesan Ustadz Yusuf Mansur di berbagai ceramah beliau. Termasuk perkara jodoh.

Ditargetin dong, bos, kagak asal yang penting dapet jodoh aje” “Lah elu, suruh nikah ogah, tapi pacaran mulu” beliau menambahkan, dengan gaya khas Ustadz Yusuf Mansur.

Kejar target? Kenapa enggak? Emang ada yang salah? Lawong dengan menikah berkahnya luar biasa, dengan menikah Allah bukakan pintu rizki dari segala arah. Janji Allah pasti, manusia-nya aja yang kepinteran, kebanyakan mikir ini-itu. Terlalu perhitungan sama perkara dunia.

“Kok doa-nya gitu sih? Kok ditarget umur 25 gitu? Itu kan men-dikte Allah namanya?”

Ini nih, yang begini ini nggak percaya banget sama kuasa Allah. Sejak kapan kita yang manusia biasa ini bisa men-dikte Allah. Semua yang terjadi sama kita ya atas kehendak-Nya, nggak ada itu istilah men-dikte. Kalau Allah KUN, FAYAKUN. Allah berikan yang terbaik buat kita, jika kita dimampukan Allah menikah sesuai dengan target umur kita, Allah memudahkan jalan kita.

Wes to, percaya. Yakin.

Nah, kalau udah di target gitu, ngejarnya pakai doa, usaha, ikhtiar. Perbaiki diri terus, terus dan terus. Perkara Allah meng-ijabah-nya di usia berapa, usaha kita untuk menuju ke usia 25 akan menikah itu kudu total, doa bener minta sama Allah. Yakin, percaya, Allah memudahkan. Jangan asal jalanin hidup aja, lempeng aja nggak ada target sama sekali. Bakal beda ikhtiarnya kita.

Tuhan Maha Oke.

Allah, Maha Pemurah, Maha Mengabulkan doa umat-Nya. Tapi kitanya yang sibuk merevisi doa-doa kita.

“ya Allah, pingin banget nikah di usia 25 tahun, tapi kan itu masih masa-masa meniti karir ya Allah, kalau gitu umur 30 tahun aja ya Allah, tapi kalau mau bikin pesta pernikahan yang mewah kan perlu banyak nabung, 35 tahun saja ya Allah”

Terus, terus dan gitu terus. Kita sibuk me-revisi doa-doa kita, tidak menyibukan dalam menjemput dan mengikhtiarkan target kita. Padahal, bisa jadi Allah sudah menghadiahkan seorang jodoh untuk kita tepat di usia 25 tahun, tetapi kita yang tidak siap hanya karena disibukkan dengan perkara dunia.

Sudahlah, segala niat baik, diluruskan saja. Insyaallah, kemudahan demi kemudahan akan Allah berikan untuk kita semua. Insyaallah.

Yang terpenting, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Percaya. Yakin.

Senin, 07 Desember 2015

Berjuang-lah!

Tak peduli apa kata orang, roda kehidupan ada ditangan Nya dan kekuatan usahamu!
Tak peduli cemooh-an, toh ada maupun tidak ada hujatan, tujuannya cuma satu kan, pada mimpi dan cita-citamu!
Tak peduli orang berkata apa, sekecil apapun usaha akan membuahkan hasil! 
Tak peduli bagaimana hasil dari jerih payah dan keringatmu, yang jauh lebih penting adalah ikhtiar dan doa-mu sejalan dengan tujuan dan cita-citamu!
Tak peduli bagaimana pada akhirnya, karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik untukmu!
Tak peduli mimpi mana yang akan terwujud terlebih dahulu, tugasmu adalah merealisasikannya satu per-satu!
Tak peduli seberapa banyak orang menyanjungmu nanti, tugas utama setelah yang kesekian kalinya adalah menjadi insan yang tetap dan selalu TAWADHU di hadapan-Nya serta sesama

Berjuang-lah!

Selasa, 06 Oktober 2015

Cintai-lah dengan sungguh-sungguh

Sudah bekerja?
Sudah mendapat gaji tetap?
Mendapat income berlipat?
Oke.  Selamat!

Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, menikmati perekerjaan selama ini tidak? Jika IYA, maka bersyukurlah, anda termasuk pada golongan orang-orang yang mengerti akan arti MENCINTAI.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mendatangi saya dan bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya. Dengan segudang kesibukan dan jadwal yang kerap berbenturan. Ada keinginan untuk melepas, tetapi ia tak bisa meninggalkan begitu saja, karena pendapatan dari pekerjaannya sangat menjanjikan. Oke, ini problem besar. Mari kita diskusikan bersama.

Diluar sana, kebanyakan dari kita bekerja hanya karena financial yang menjadi tujuan. Tak peduli bagaimana ritme kerja yang akan dijalankan maupun konsekuensi fisik yang menyebabkan kelelahan atau dampak lain dari itu. Tentu tak mengapa, karena setiap pilihan pasti menuntut konsekuensi dan tanggung jawab. Tetapi, akan menjadi masalah, jika, apa yang selama ini dijalankan adalah tak seimbang dengan apa yang kita dapatkan.

Konteks MENCINTAI ini yang memiliki banyak perspektif di kalangan pekerja, dari kantoran hingga pengusaha. Sebagian orang, memilih mencari pekerjaaan karena CINTA UANG, apapun akan ia lakukan karena uang yang menjadi target utama. Suka tidak suka, menikmati tidak menikmati, ia akan menjalani, walaupun tak sepenuh hati. Karena yang terpenting adalah punya banyak UANG. Toh, bahagia bisa didapat dengan membeli segala yang menjadi keinginan hati. Tetapi, sebagian dari kita, memilih mencari pekerjaan karena CINTA. Ia bekerja dengan segala kenyamanan dan passion yang ia miliki. Tak pernah ada kata gelisah dalam hidupnya, karena ia benar-benar MENCINTAI pekerjaan yang ia jalani. Sekalipun, tak jarang pendapatan yang diperoleh mengalami fluktuasi. Tetapi yang ia yakini adalah kebahagiaan hati tak akan pernah terbeli. Kemudian ia akan selalu menekuni pekerjaan yang ia jalani dengan sepenuh hati dan CINTA yang tak bertepi, hingga waktu yang menjawab nanti. Mereka yang berada pada CINTA dengan pilihannya, tak pernah mengeluh, karena selalu menikmati disetiap prosesnya. Hingga ada saatnya, UANG lah yang akan datang menghampiri.

Sudah memilih diantara keduanya?
Lalu,
Mau sekedar pilihan, atau menjadi yang terpilih?

Oke, jika memang sudah terjebak diantara kedunya, maka, yang sebaiknya dilakukan adalah tak banyak. Karena mau tak mau tuntutan pekerjaan mewajibkan untuk bertindak profesional. Hanya dengan MENCINTAI SUNGGUH-SUNGGUH. Lagi-lagi bersyukur sekali jika kita sudah berada pada CINTA dengan apa yang kita kerjakan selama ini, apalagi jika aliran financial pun tak henti. Karena, sampai kapanpun proses tak akan pernah menghianati hasil bukan? Karena yang terpenting adalah SUNGGUH-SUNGGUH.

Jika masih terjebak dalam ketidaknyaman pekerjaan tetapi menginginkan banyak UANG, so, mulailah dengan perlahan MENCINTAI pekerjaan itu. Karena setiap keputusan yang telah diambil adalah menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikannya sampai akhir. Jika memang masih dirasa berat, pilihan lain adalah mulailah kembali MENCINTAI diri anda terlebih dahulu, MENCINTAI pekerjaan yang memang sesuai dengan panggilan hati, dan kemudian MENCINTAI dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi pilihan. Hindari mengeluh dan berkesah, karena tak akan menyelesaikan masalah. Bersyukurlah, karena Tuhan sangat teramat berbaik hati. Pekerjaan itu, bukan hanya perkara finansial, tapi juga mencari ridho Nya bukan? 

Maka, CINTAI-LAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH!

Rabu, 30 September 2015

Berbeda? Tak mengapa!

Jadi, manusia seharusnya bergerak menuju satu cahaya yang sama? Ya, tentu tak mengapa, jika, cahaya yang dituju adalah untuk meraih sentuhan Sang Maha. Jika yang lain? Hanya mengais gemerlapnya dunia? Aku memilih berbeda

Kehidupan memang bermata dua. Suka dan tidak suka, pro dan kontra, menjadi perihal yang tak pernah kandas pada diri manusia. Yang suka menunjukan dengan keikutsertaannya, yang tak suka memaki dengan segala amarahnya.

Ah, manusia, memang selalu menjadi makhluk terkompleks yang pernah ada.

Namun yang jelas, perkara berbeda, aku memilih untuk menghargai sesama. Karena kita berjalan pada langkah yang tak seirama, kita pun dilahirkan dengan metode yang berbeda. Bahkan, kita mengenyam  latar  belakang pendidikan yang tak seragam. Jika pun bertittle sepadan, lagi-lagi kita ditempa pada proses yang berbeda. Aku dan kamu, serta kalian, memang kita berbeda.

Jadi, kita tak pernah sama? Ya, tak mengapa. Perbedaan-lah yang pada akhirnya menyadarkan kita, bahwa manusia tak bisa disamaratakan. Itu-lah mengapa, dari yang berbeda aku menemukan cinta.

With LOVE. With RESPECT
We are different, why not?

Minggu, 27 September 2015

Berhenti menyalahkan Tuhan dan membandingkan pemberian Nya

Seringkali, kita mendengar keluhan dalam doa kita. Bahwa Tuhan tak adil dalam memberikan apa yang kita pinta. Kemudian hati mulai diracuni oleh logika yang terkadang jauh dari kata logis. Membandingkan apa yang kita terima dengan apa yang diterima oleh orang lain. Kemudian muncul rasa ketidak adilan Tuhan, Tuhan tak adil dalam mengabulkan doa. Begitu seterusnya, penuh dengan perbandingkan.

Tuhan selalu menjadi sorotan atas rasa ketidak adilan yang kita terima. Tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Terus saja seperti ini. Hingga ketika Tuhan membuka jalan yang kita inginkan, memberikan cahaya pada pilihan Nya, barulah kita tersadar bahwa segala yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita, tak tertandingi.

Begitulah manusia, yang katanya adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk lainnya. Yang diberikan akal yang sempurna dan Tuhan titipkan hati untuk meluruskan fikirannya. Tetapi lagi-lagi, makhluk paling sempurna ini kerap melukai penciptanya. Selalu penuh dengan prasangka bahwa apa yang ia terima adalah ketidak adilan Tuhan padanya. Padahal, mata yang Dia berikan, bukan untuk membandingkan, telinga yang Dia pasangkan, bukan untuk mencuri kebahagiaan. Tuhan selalu adil dalam memberikan apa yang kita inginkan. Teramat adil.

Kita lah, yang katanya makhluk paling sempurna ini yang tak tahu diri. Melihat kebahagiaan orang lain, lalu mulai membandingkan dengan apa yang menjadi kebahagiaan diri kita. Lalu muncul ketidakadilan itu. Muncul rasa tak terima dengan apa yang oranglain terima. Padahal, kita tak pernah tahu, dalam lelap kita, mereka yang berbahagia selalu terbangun dan berdoa pada Nya. Dalam selimut kita, mereka yang berbahagia terbangun dan bermunajat pada Nya. Dan saat kita terlalu disibukkan dengan perkara dunia, mereka yang berbahagia selalu menjumpai penciptanya tepat pada waktu Nya.

Kemudian, Tuhan selalu melapangkan segala hajatnya. Memberi kemudahan disetiap langkahnya. Dan kita masih pada prasangka tidak terima dalam ketidakadilan kita. Dimana letak ketidakadilan Tuhan?

Manusia, yang katanya jauh lebih mulia dibanding makhluk lainnya, masih merasakan ketidak adilan Nya. Dimana letak ketidakadilan Tuhan?

Kita yang selalu menunda ketika panggilanNya tiba, dan lebih mengutamakan apa yang ada di depan mata, menyampingkan perkara yang sudah jelas menjanjikan karunia, masih merasa bahwa Tuhan tak adil dengan hamba Nya. Dimana letak ketidakadilan Tuhan?

Manusia, yang katanya makhluk paling sempurna, kita yang sebenarnya tak adil dengan dirikita, bahkan mungkin juga pada Sang Maha Pencipta. Dekati Dia dengan segala waktu yang kita punya. Janji Nya tak pernah ingkar. Tuhan selalu menjumpai kita pada doa tertinggi kita. Kapanpun, dimanapun. Tuhan tak pernah tak adil.

Kita, yang perlu mengadili diri kita. Dan berhenti membandingkan pemberian Nya. Karena Dia, memberi sesuai dengan prasangka hamba Nya. Dan karena sampai kapan pun, proses tak akan pernah menghianati hasil. Dia selalu menjumpai dalam doa dan proses kita. Trust me!

Senin, 06 Juli 2015

Pagi :)

Pagi yang cerah
Seperti biasa, kicau burung dan awan putih
Masih berhembus pada arah mata angin yang sama
Dan selalu
Kutemukan satu titik yang menyentuh qolbu
Apa lagi, jika bukan karena Dia Sang Maha Indah
Begitu indah

Maka, nikmat Tuhan yang mana kah yang kamu dustakan?

Kamis, 02 Juli 2015

Just follow your heart, and let's write!

Menulis itu, bukan perkara bisa atau tidak
Menulis, ya menulis saja
Cukup dengan menggunakan hati, sejernih mungkin
Karena percuma jika memiliki segudang teori menulis tetapi tak ber"hati" ketika menulis

Menulis itu bukan perkara target
Kualitas tulisan kita akan terlihat berbeda, ketika hanya sekedar ingin menulis dengan ditargetkan
Karena menulis itu, mengalir saja
Ikuti kata hati, dan mulai menulis dengan hati

Segala yang teraba oleh raga tak semua terasa oleh jiwa
Karena nya, media ini yang menjembatani keduanya
Menulislah,
Tidak ada yang tak bisa menulis, semua bisa

Sekali lagi, semua bisa

Hanya saja, setiap dari kita memiliki rasa yang berbeda
Sehingga, tak ada yang salah dengan tulisan siapapun
Karena, lagi-lagi proses dan pendewasaan kita berbeda

Tak apa, begitulah menulis
Layaknya berproses dalam hidup
Ada saatnya kita menoleh kebelakang, dan menertawakannya
kemudian beranjak, memperbaiki proses yang terlewati

Hingga, ada saatnya, nanti, kita tertegun dengan proses mencintai tulisan kita sendiri
Karena menulis tak pernah menuntut banyak
Menulis tak muluk-muluk
Cukup ikuti kata hati, dan ya menulislah

Sekarang juga :)

Senin, 29 Juni 2015

Semuanya dimulai dari keistiqomahan sebuah Do'a

Berdoa, adalah upaya terbaik dari sebaik-baiknya upaya.
Karena segala usaha tanpa didasari sebuah doa yang khusyu', yang istiqomah, dan yang berkhusnudzon pada Nya, maka tak akan ada daya pada upaya dan usaha nya. Allah menjanjikan pada umat Nya, bahwa segala doa Allah mendengarnya, Allah mengabulkannya dan Allah Maha Mengetahui diwaktu kapan doa kita akan Allah perkenankan.

Menyambung dari You must prepare it, "Bunda" bahwa sebuah doa adalah runtutan dari harapan besar untuk dikabulkan. Akan tetapi, doa tak hanya sekedar doa. Ketulusan dan kemurnian doa terpancar dari keikhlasan sebuah jawaban dari Nya. Oleh karena nya, untuk menjemput jawaban terbaik dari Sang Maha, maka mengistiqomahkan segala doa dan senantiasa menjaga kemurniaannya.

Mempersiapkan doa terbaik untuk menjemput segala harapan baik.
Insyaallah.


Doa Nabi Zakariyya 'alaihissalam ketika menginginkan anak:
رَبِّ Ù‡َبْ Ù„ِÙŠ Ù…ِÙ†ْ Ù„َدُÙ†ْÙƒَ ذُرِّÙŠَّØ©ً Ø·َÙŠِّبَØ©ً Ø¥ِÙ†َّÙƒَ سَÙ…ِيعُ الدُّعَاءِ
Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa"
(Lihat Al Quran Surat Ali Imran : 38)

Doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika meminta anak:
رَبِّ Ù‡َبْ Ù„ِÙŠ Ù…ِÙ†َ الصَّالِØ­ِينَ
Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku keturanan yang shalih” 
(Lihat Al Quran surat Al Qashshash : 110)

Doa Istri Imran ketika setelah melahirkan Maryam:
(رَبّ) Ø¥ِÙ†ِّÙŠ Ø£ُعِيذُÙ‡َا بِÙƒَ ÙˆَذُرِّÙŠَّتَÙ‡َا Ù…ِÙ†َ الشَّÙŠْØ·َانِ الرَّجِيمِ
Artinya: “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada setan yang terkutuk" 
(Lihat Al Quran surat Alim Imran : 34-36)

Minggu, 28 Juni 2015

You must prepare it, "Bunda"

Step kehidupan tak akan pernah berhenti. Satu pertanyaan tumbuh, terjawab, dan tumbuh pertanyaan berikutnya. Tak akan pernah berujung. Kita selalu dihujani dengan pertanyaan yang silih berganti. 

Karena, ya, begitu lah kehidupan. 

Hidup membawa kita pada persiapan jawaban, jawaban dan jawaban. Bahkan, pada kehidupan setelah mati pun kita akan menerima pertanyaan lagi. Mempertanggung jawabkan atas segala yang terjadi di kehidupan sebelumnya.

Begitulah runtutan pertanyaan yang kita hadapi. Study. Karir. Jodoh. Anak. Hingga pada akhirnya pertanyaan pada kekalnya kehidupan.

Berbicara soal jodoh, kita sudah memiliki banyak teori untuk menjemput beliau sang pendamping hidup. Menjemput dengan segala ikhtiar, memantaskan diri, dan berkhusnudzon pada Nya tentang segala yang akan kita terima dari doa yang terpanjatkan. Percaya dengan sepenuh hati bahwa yang terbaik akan datang pada waktu yang baik dan disaat yang baik pula. Dan semuanya, dimulai dari sebuah persiapan. Yaitu do'a.

Akan tetapi, mempersiapkan jawaban pun sejatinya tak ada yang instan. Segala nya perlu diperjuangkan dan dilakukan dengan persiapan yang matang. 

Termasuk, mempersiapkan si buah hati. Jika menikah selalu menjadi prioritas saat ini, menjadi doa yang tak pernah putus setiap hari, menjadi harapan dan keinginan yang tak bertepi. Hingga mungkin kita terlupa, bahwa ada jawaban yang masih perlu dipersiapkan setelah melalui hari "lembaran baru" nanti. Apa lagi, jika bukan pertanyaan tentang buah hati.

Dan persiapannya, doanya, ikhtiarnya, bukan dimulai dari saat nanti mengawali sebuah pernikahan. Doanya dimulai dari sekarang, diikhtiarkan dari saat ini juga. Memohon pada Sang Maha, untuk kelak Dia mempercayai kita untuk melahirkan generasi yang salih dan salihah, generasi yang cerdas, generasi yang santun, generasi cantik dan tampan secara lahir pun secara batin. 

Lagi-lagi, peran seorang wanita memegang erat akan terjawabnya pertanyaan ini. "Bunda", yang nantinya menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya. Yang mengandung sembilan bulan dan mempersiapkan "rumah" yang baik untuk berkembangnya si calon bayi di dalam kandungan. Dan yang mempersiapkan segala yang menjadi kebutuhan untuk menunjang tumbuh kembang mereka. 

Dan lagi-lagi, segala persiapannya dimulai saat ini juga.

Doa dan ikhtiarnya pun, sedari dan seawal mungkin, Bunda.

Allah suka dengan persiapan yang matang, bukan dengan yang tergesa-gesa dan mendadak. Allah cinta dengan keindahan. Dan indahnya doa-doa kita, Allah mendengar semuanya. 






Jadi, jika bukan kita yang mempersiapkan, siapa lagi?

Rabu, 17 Juni 2015

Do'a mu, tak akan pernah sia-sia

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah.
Allah yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi.
Yang merajai alam semesta seisinya.
Dan pemangku atas segala do'a yang terpanjatkan dalam setiap hembusan nafas hamba Nya.
Allah, Allah ya Allah ya Karim.


"Dan Dia mem­perkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya." (QS. Asy- Syuro : 26)

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. Al- Mukmin : 60)

"Sesungguhnya Allah, Tuhan Yang Maha Hidup lagi Maha Mulia, merasa malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, lalu or­ang itu ditolak dengan kosong dan kecewa." (HR. Empat Ahli Hadits, kecuali Nasai dari Salman ra.)

"Ada tiga orang yang sekali- kali tidak akan ditolak doanya oleh Allah SWT, ialah orang yang sedang berpuasa sampai waktu menjelang berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya." (HR. Tirmidzi dari Abu Huroiroh ra.)

"Apabila seorang muslim menyungkurkan wajahnya (sujud) kepada Allah dalam memohon sesuatu, pasti Allah memberinya. Dan pemberian itu disegerakan atau menjadi simpanan di akhirat". (HR. Ahmad dari Abu Huroiroh ra.)


Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba Nya.
Allah memberi tanpa diminta.
Allah mengabulkan yang kita minta.
Allah mencukupkan segala yang kita pinta.
Dan Allah memberi yang terbaik dari yang paling baik atas segala permintaan kita.
Karena Allah, begitu sayang pada hamba Nya.

Allahul kafi rabbunal kafi.
Qasad nal kafi wajad'nal kafi.
Likullin kafi kafa nal kafi.
Wani'mal kafi, Alhamdulillah.

Sabtu, 13 Juni 2015

Jika memang harus mengeluh, keluhkan semua pada Nya

Karena,
Mengeluhmu pada sesama, tak akan menyelesaikan masalah. Mengeluhmu pada Sang Maha, memberikan jalan pembuka. Jalan kebaikan, jalan terang, jalan menuju surga Nya.

Karena, 
Allah tak pernah ingkar dengan janji Nya. 

Karena, 
Allah mengerti, terkadang umat Nya kerap diliputi naluri untuk menyombongkan diri. Sehingga Allah, mengingkatkan dengan segala ujian yang pada akhirnya membawa kita pada muhasabah dan mengerti arti bertunduk hati.

Dan karena,
Allah begitu menyayangi umat Nya.


Banyak orang, ingin derajatnya disamakan dengan orang-orang salih, akan tetapi ketika di uji tak sedikit dari mereka yang mengeluh. Padahal Allah memberikan ujian terhadap mereka yang salih dengan beban yang berat dan mereka bersabar atas itu. Hingga tiba masa, dimana Allah mengangkat derajat mereka. 

Sabtu, 06 Juni 2015

Karena berani kotor itu, Baik







Dunia anak-anak adalah dunia paling menyenangkan, penuh dengan keceriaan, kreatifitas dan dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang besar. Tak banyak dari polah tingkah si kecil yang memunculkan tawa dan senyum lepas pada orang tua. 

Beberapa waktu lalu, pemandangan seperti ini membawa saya merasakan kembali di masa kecil dulu. Bebas berlari berkejaran, sesekali hiperaktif untuk mencuri perhatian dan ya begitulah. Sungguh masa yang menyita waktu banyak untuk bermain bermain dan bermain. 

Tetapi mungkin, kebebasan ini tak di dapat oleh si kecil di depan saya kala itu. Dia tak bebas berekpresi, tak leluasa berkembang dan tak selincah teman-teman seusianya. Bukan karena dia memiliki keterbatasan fisik maupun mental, sama sekali tidak. Bahkan ia terlihat cantik, cerdas dan penuh antusias. Begitu membanggakan si kecil ini. 

Tetapi, satu hal yang mengekang gerak lincahnya. Kebersihan (mungkin). Anak seusia mereka memang tak dapat menjaga kebersihan dengan baik, karena memang begitulah dunia mereka, penuh dengan eksplorasi dan kotor sana kotor sini. 

Seorang ibu muda cantik, berdiri sekitar satu meter dari si kecil ini. Tentu saja beliau adalah ibunya. Beberapa menit pertama saya mencoba mencuri pandang, dia tersenyum khas sekali senyum seorang anak tanpa dosa. Ia begitu lucu, cantik dan menggemaskan. Saat itu, dia berada beberapa meter dari anak-anak yang bermain (entah apa nama permainan itu) dan mereka berlari berkejaran, sembari menunggu jemputan mereka bermain tanah. Terlihat kotor memang, baju putih mereka pun mulai berubah kecoklatan. Bisa jadi sesampainya dirumah mereka akan disidang oleh orangtua nya. Tetapi, bisa jadi juga sang orangtua tidak mempermasalahkan hal ini. Toh, baju yang kotor bisa kembali bersih, bukan? Tetapi pengalaman bermain bersama teman-teman nya hari ini, mungkin tak dapat mereka ulang untuk keesokan hari.

Lagi-lagi dunia anak kecil selalu menyita perhatian lebih. Beberapa orangtua terkadang memang terlalu mengkhawatirkan kesehatan sehingga muncul lah "overprotectif" terhadap anak. Bahwa kotor adalah hal yang harus dijauhi, bahwa kotor adalah sumber dari penyakit dan kotor adalah satu hal tak ada yang dapat diambil hikmahnya. Namun, bukan berarti juga membebaskan seorang anak untuk kotor tanpa batas. Selama dalam pengawasan dan kotor tersebut mampu menjadi media belajar, bereksplorasi dan berkembang. Mengapa tidak?

Rasanya, anak-anak era kini sangat cerdas untuk menerima informasi. Mungkin cukup dengan membekali nasehat, bahwa mencuci tangan adalah hal yang wajib dilakukan setelah bermain diluar, misalnya. 

Sungguh menyiksa hati, jika melihat seorang anak kecil yang hanya bisa berdiri melihat kawan-kawan nya berkejaran kesana-kemari, padahal ia ingin sekali bergabung, merasakan lincahnya dunia anak. Padahal, ada banyak potensi yang bisa digali dari sana. Tak ada yang tahu bukan, jika sebenarnya Tuhan memberi kelebihan dalam berlari sehingga kelak ia akan menjadi pelari Nasional atau bahkan Manca Negara. 

Karena belajar, tak hanya di bangku sekolah dengan buku pena dan kertas. Belajar adalah proses memahami segala yang menjadi pertanyaan si kecil, termasuk belajar bahwa terkadang kotor itu, baik :)

Kamis, 04 Juni 2015

Hi, we are waiting for you. Baby!

Nia Setia Astuti, kami memanggilnya Nia. Sahabat tersayang yang mendapat piala pernikahan pertama dari kami ber-lima. Dan kali ini ia membawa kabar gembira (lagi). Allah, senang bukan main kami akan segera mendapat ponakan pertama. Alhamdulillah, syukur luar biasa!

Bay the way, dari kami berlima Nia lah tipikal sahabat yang paling nggak terima kalau salah satu diantara kita tersakiti. Sungguh care luar biasa, apalagi kalau soal berantem, ngebut, debat. Nia jago nya. Wanita satu ini, tak hanya kuat tapi juga selalu berjuang demi impiannya. Dan diantara kami, Nia pula lah yang paling "perkasa". Hingga tak jarang kami menyebutnya "gento" (baca: jagoan)

Beberapa teman, terheran. Dulu yang diprediksikan akan menikah terlebih dahulu, yang wanita banget, yang terlihat sudah sangat dekat, ternyata tertepis dengan yang paling jagoan, yang paling cuek dan yang paling easy going. Subhanallah, rencana Allah memang tak pernah dapat di duga dan tak pernah dapat diprediksi. Dan kini, Nia sudah mengandung bayi lucu menggemaskan dan soleh serta berguna untuk Nusa Bangsa dan Agama. Insyaallah, aamiin. 

Hari ini kami bertemu, hanya bertiga. Aku, Irfa' dan Nia. Kami banyak bertukar pikiran dan cerita banyak hal. Terlebih Nia, menceritakan panjang lebar bagaimana indahnya sebuah pernikahan dengan segala proses pendewasaan yang matang. Belajar hari demi hari untuk memahami suami, memahami peran seorang istri, memahami bagaimana yang seharusnya dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, hingga hal terkecil seputar kebiasaan baru. Dan pada akhirnya, hal yang dinantikan oleh seluruh wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Nia bercerita banyak, tentang perjalanan menjemput si kecil hingga menididik sedari rahim dan hingga menjaganya secara lahir dan batin. Subhanallah, Maha Suci Allah dengan segala kesempurnaan-Nya. Sahabat kami yang dulu "gento" itu, terlihat begitu ke-ibu-an, cantik alami, solehah dan begitu santun tutur katanya. Jauh dari Nia yang kita kenal dulu. Subhanallah.

Satu bukti, bahwa menikah adalah pintu kebaikan yang luar biasa. Pintu rezeki, pintu perubahan menuju sebuah kebaikan besar, pintu pahala, pintu kemudahan demi kemudahan. Bahwa segala niat baik, ikhlas hanya untuk Allah, maka Allah akan penuhi segala kebutuhan dunia dan akhirat. Insyaallah.

Hari ini, kami belajar banyak. Sangat banyak.

Hai, calon ponakan tante. Baik-baik ya, sehat selalu, tante menunggumu nak :)

Rabu, 03 Juni 2015

Udah, nggak usah pacaran!


Hai, aku manusia biasa. Tak banyak membantu, hanya memberikan solusi, sebatas saran dari pengalaman yang sedikit ini. Keluhkan semuanya pada Sang Maha. Pesan ku hanya satu, udah putusin aja. Atau, ya sudah nikahin dong!


Heran, banyak yang bilang "aku sayang banget sama dia, kak" tapi giliran suruh buktiin sayang nya, bilang ke orang tua nya, pada bilang gini "yaelah kak, menikah kan gak segampang itu, mau aku kasih makan apa anak orang?"

Ini nih, racun bener nih. Kalau memang belum siap, yasudah tahan diri dulu dong. Soal makan aja menjadi kekhawatiran yang luar biasa, nah DOSA malah dianggep sepele banget. Emang pacaran nggak dosa? Emang sayang nya kamu itu udah ke orang yang tepat?

"idih, kayak gak pernah pacaran aja? kalau nggak pake pacaran, gimana ngenalnya? gimana tau dia baik atau enggak?"

Ini nih, racun lagi nih.

Sekarang gini deh, apa sih yang bisa kita jaminkan di dunia ini? Hidup? Mati? Rizki? Jangankan itu semua, kita besok pagi ngapain aja nggak ada yang bisa menjamin kan? Nah, kembali lagi deh tuh, Allah dulu Allah lagi Allah terus. Percaya sama Allah, semuanya. Semuanya, tanpa terkecuali. Termasuk ke orang yang kamu sayangi itu tadi. Milik Allah bukan? Allah yang maha membolak-balikan hati manusia. 

Terkadang, kita terlalu egois. Hanya memikirkan apa yang ada dalam hati kita dan hati orang yang kita sayangi. Tak memikirkan kepada yang jauh lebih sayang pada kita, Allah Azza Wa Jalla.

Percuma mempertahankan hubungan "pacaran" dan mempertahankan orang yang kamu sayangi hingga menikah nanti, kalau Allah tidak ridho dengan proses yang kalian lalui menuju kesana. Menuju suatu kebaikan itu, dengan jalan yang baik pula. Insyaallah Allah ridho, dimudahkan dan dilapangkan jalan selanjutnya. Tak hanya dunia, dipersatukan hingga jannah Nya. Insyaallah.

Jika cemburu kau sebut tanda cinta, mungkin saja Allah juga cemburu padamu dan ingin cintamu hanya untuk Nya.